Penulis: Hendra Masha Putra
Sebuah kisah fiktif bernuansa legenda tentang seorang perempuan yang namanya kemudian diabadikan dalam kabut Gunung Rinjani.
Pada zaman ketika Lombok masih diselimuti hutan lebat dan jalan-jalan belum mengenal jejak roda, hiduplah seorang perempuan bernama Dewi Anjani.
Ia bukan hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga karena keberaniannya. Sejak kecil, Anjani sering berjalan seorang diri menuju bukit di belakang tempat tinggalnya. Dari sana ia memandang gunung yang berdiri jauh di kejauhan.
Setiap kali matahari tenggelam, Anjani selalu berkata kepada dirinya sendiri,
“Suatu hari nanti, aku ingin mengetahui apa yang disembunyikan gunung itu.”
Tidak seorang pun mengetahui mengapa Anjani begitu tertarik kepada gunung tersebut. Namun semakin dewasa, rasa ingin tahunya semakin kuat.
Pertemuan di Tengah Hutan
Pada suatu pagi, Anjani memutuskan untuk pergi lebih jauh dari biasanya. Ia memasuki hutan yang belum pernah dijamahnya. Pepohonan tinggi menutupi cahaya matahari, sementara kabut tipis perlahan turun di antara batang-batang pohon.
Setelah berjalan cukup lama, Anjani menemukan sebuah mata air yang jernih. Di dekat mata air itu berdiri seorang perempuan tua yang mengenakan pakaian putih.
Perempuan itu menatap Anjani tanpa berkata apa-apa.
“Mengapa kau datang ke tempat ini?”
Anjani menjawab dengan tenang.
“Aku ingin mengetahui rahasia gunung yang selama ini memanggilku.”
Perempuan tua itu tersenyum.
Ia kemudian berkata bahwa setiap manusia boleh mencari jawaban, tetapi tidak semua jawaban boleh dibawa pulang.
Rahasia Sang Gunung
Perempuan tua itu membawa Anjani menuju sebuah tempat yang tersembunyi di balik kabut. Di sana Anjani melihat sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di balik dinding batu terdapat sebuah kerajaan yang begitu indah. Istana-istana berdiri di antara pepohonan, sungai mengalir tanpa suara, dan cahaya keemasan memenuhi seluruh lembah.
Anjani terdiam.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dunia yang selama ini dikenalnya mungkin tidak sebesar yang ia kira.
Namun perempuan tua itu memberikan sebuah peringatan.
“Jika kau memilih tinggal, kehidupanmu tidak akan pernah sama.”
Anjani memandang ke arah kerajaaan itu. Di satu sisi ia teringat rumah dan keluarganya. Di sisi lain, hatinya merasa bahwa perjalanan hidupnya telah membawanya tepat ke tempat tersebut.
Pilihan Dewi Anjani
Hari berganti hari. Anjani akhirnya memilih untuk tinggal dan mempelajari kehidupan di kerajaan yang tersembunyi itu.
Ia belajar menjadi pemimpin. Ia belajar mendengarkan suara alam, memahami manusia, dan mengambil keputusan ketika kepentingan banyak orang berada di tangannya.
Namun Anjani tidak pernah melupakan dunia tempat ia dilahirkan.
Setiap malam ia berdiri di sebuah bukit tinggi dan memandang cahaya yang jauh di bawah sana.
Ia merindukan rumah.
Sampai pada suatu malam, Anjani mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
Ia ingin kembali.
Kabut yang Menutup Jalan
Ketika Anjani mencoba meninggalkan kerajaan tersebut, kabut tebal tiba-tiba turun. Jalan yang sebelumnya ia kenal menghilang.
Ia berjalan berhari-hari, tetapi selalu kembali ke tempat yang sama.
Saat itulah Anjani memahami perkataan perempuan tua yang pernah ditemuinya di mata air.
Tidak semua jawaban boleh dibawa pulang.
Anjani akhirnya berhenti mencari jalan keluar dengan kekuatan sendiri. Ia duduk di atas sebuah batu dan memandang langit.
Ia tidak lagi meminta jalan untuk kembali. Ia hanya meminta agar orang-orang yang ditinggalkannya selalu berada dalam keadaan baik.
Setelah doa itu selesai, kabut perlahan terbuka.
Tetapi Anjani tidak menemukan jalan menuju rumahnya.
Sebaliknya, ia menemukan sebuah tempat tinggi yang menghadap seluruh daratan Lombok.
Nama yang Tinggal dalam Gunung
Sejak saat itu, masyarakat mulai sering melihat seorang perempuan berdiri di antara kabut gunung.
Tidak ada yang mengetahui siapa perempuan tersebut.
Sebagian mengatakan ia adalah penjaga gunung. Sebagian lainnya percaya bahwa ia adalah seorang pemimpin dari kerajaan yang tidak terlihat oleh manusia biasa.
Namun ada satu nama yang selalu disebut ketika kabut turun perlahan di lereng gunung.
Dewi Anjani.
Konon, sejak saat itu namanya menjadi bagian dari cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Orang-orang kemudian percaya bahwa selama gunung masih berdiri, selama hutan masih menyimpan kabutnya, dan selama manusia masih menceritakan kisah-kisah lama, nama Dewi Anjani tidak akan pernah benar-benar hilang.
Penutup
Mungkin tidak semua bagian dari kisah ini dapat ditemukan dalam catatan sejarah. Sebab legenda memang tidak selalu lahir dari buku.
Ada cerita yang lahir dari ingatan. Ada yang lahir dari keyakinan. Dan ada pula yang tumbuh karena manusia membutuhkan sebuah kisah untuk menjelaskan sesuatu yang belum mampu mereka pahami.
Begitulah legenda Dewi Anjani.
Sebuah nama yang dalam cerita ini tidak hanya menjadi milik seorang perempuan, tetapi menjadi simbol dari hubungan manusia dengan gunung, alam, dan misteri yang berada di baliknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar