Dari manuskrip leluhur, digitalisasi, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan: bisakah teknologi membantu menyelamatkan ingatan budaya Sasak?
Ada pertanyaan sederhana tetapi penting dalam membicarakan masa depan kebudayaan Sasak: kalau generasi muda tidak lagi membaca lontar, apakah digitalisasi dapat membuat mereka kembali mengenalnya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kehidupan generasi muda berlangsung dalam ruang digital. Pengetahuan tidak lagi selalu dicari melalui buku, perpustakaan, atau pertemuan budaya. Banyak pengetahuan pertama kali ditemukan melalui mesin pencari seperti Google, media sosial, video, dan kini melalui sistem berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dalam konteks tersebut, Lontar Sasak tidak cukup hanya dipandang sebagai benda kuno yang harus disimpan. Ia perlu dipikirkan sebagai sumber pengetahuan budaya yang harus dapat ditemukan, dibaca, dipahami, dan diwariskan kembali.
Lontar Bukan Sekadar Benda Lama
Lontar Sasak merupakan bagian dari tradisi intelektual masyarakat Sasak di Lombok. Manuskrip tersebut menyimpan informasi mengenai kehidupan, sastra, sejarah, pengetahuan, dan pengalaman masyarakat pada masa lalu.
Penelitian mengenai keberlanjutan Lontar Sasak untuk Gen Z menunjukkan bahwa naskah lontar memiliki nilai sejarah, budaya, dan pengetahuan yang penting. Namun, penelitian dan publikasi mengenai lontar Sasak masih relatif terbatas. Karena itu, digitalisasi dipandang sebagai salah satu kebutuhan penting agar naskah dapat lebih mudah diakses oleh generasi sekarang dan mendatang.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya bagaimana menyimpan lontar, tetapi bagaimana membuat pengetahuan yang ada di dalamnya tetap hidup.
1. Lontar → Digitalisasi
Tahap pertama adalah mengubah naskah fisik menjadi sumber digital. Digitalisasi dapat dilakukan melalui proses pemindaian, pencitraan, pengarsipan, pemberian metadata, serta pengelolaan basis data.
Penelitian mengenai digitalisasi naskah kuno Sasak menunjukkan bahwa teknologi informasi dapat digunakan untuk membantu pelestarian sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap naskah. Penelitian tersebut bahkan mengembangkan sistem berbasis web agar informasi mengenai naskah dapat diakses melalui perangkat digital.
Apakah Lontar Sasak sudah tersedia dalam bentuk digital yang aman, terstruktur, terdokumentasi, dan mudah diakses?
Namun, digitalisasi tidak otomatis berarti pelestarian selesai. File digital juga membutuhkan pengelolaan, pencadangan, migrasi teknologi, metadata, dan perawatan jangka panjang.
2. Digitalisasi → Google
Di sinilah persoalan baru muncul. Sebuah naskah dapat saja sudah didigitalisasi, tetapi belum tentu benar-benar hadir dalam ruang pengetahuan publik.
Digitalisasi membuat naskah menjadi digital. Google membuat keberadaan digital tersebut lebih mudah ditemukan.
Perbedaan ini sangat penting. Sebuah arsip budaya yang tersimpan di dalam komputer tetapi tidak memiliki katalog, deskripsi, metadata, halaman web, teks yang dapat dibaca mesin, atau struktur informasi yang baik akan jauh lebih sulit ditemukan oleh masyarakat.
Seberapa mudah informasi tentang Lontar Sasak ditemukan melalui mesin pencari ketika seseorang mengetik kata kunci yang relevan?
Karena itu, pelestarian budaya pada era digital tidak hanya berbicara tentang penyimpanan data. Ia juga berbicara tentang keterlihatan pengetahuan.
3. Google → Generasi Muda
Generasi muda hidup dalam budaya pencarian. Ketika ingin mengetahui sesuatu, mereka cenderung mencari informasi melalui perangkat digital.
Kondisi ini menciptakan peluang baru bagi Lontar Sasak. Pengetahuan yang dahulu berada di ruang terbatas dapat diperkenalkan melalui halaman web, katalog digital, artikel populer, ensiklopedia daring, video edukasi, infografis, hingga materi pembelajaran.
Namun terdapat satu persoalan mendasar: apakah generasi muda hanya menemukan informasi tentang lontar, atau benar-benar memahami maknanya?
Digitalisasi dapat memperluas akses, tetapi akses belum tentu menghasilkan pemahaman. Karena itu, pelestarian digital perlu dilanjutkan dengan pendidikan, interpretasi, transliterasi, terjemahan, dan penyajian yang sesuai dengan cara belajar generasi muda.
4. Google → AI
Perubahan berikutnya adalah munculnya AI.
Jika mesin pencari membantu manusia menemukan informasi, maka AI berpotensi membantu manusia berinteraksi dengan informasi.
Dalam konteks Lontar Sasak, teknologi AI secara konseptual dapat diarahkan untuk membantu proses seperti pengenalan karakter, transkripsi, transliterasi, pencarian teks, pengelompokan naskah, penerjemahan, pembuatan indeks, dan penyajian pengetahuan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.
Penelitian teknologi terhadap citra Lontar Sasak menunjukkan bahwa proses mengenali tulisan dari citra naskah bukan persoalan sederhana. Kualitas gambar, kondisi fisik naskah, karakter aksara, dan keterbatasan teknologi menjadi tantangan tersendiri.
Apakah isi Lontar Sasak dapat diproses oleh teknologi digital tanpa menghilangkan konteks, struktur bahasa, dan makna budaya aslinya?
5. AI → Pelestarian Ingatan Budaya
Pada tahap ini muncul pertanyaan yang lebih besar:
“Bisakah AI membantu menyelamatkan ingatan budaya Sasak?”
Jawabannya tidak sesederhana “bisa” atau “tidak bisa”. AI dapat menjadi alat bantu, tetapi AI bukan pemilik kebudayaan.
AI dapat membantu manusia mengorganisasi informasi, menemukan pola, membaca citra, atau membuat pengetahuan lebih mudah diakses. Akan tetapi, interpretasi budaya tetap membutuhkan keterlibatan manusia, terutama filolog, budayawan, akademisi, masyarakat Sasak, dan pemilik pengetahuan tradisional.
Ini penting karena kesalahan AI dalam membaca atau menerjemahkan naskah dapat menghasilkan kesalahan pengetahuan yang kemudian menyebar secara digital.
Apakah informasi yang dihasilkan teknologi dapat diverifikasi oleh sumber naskah dan ahli yang memiliki kompetensi terhadap bahasa, aksara, sejarah, serta kebudayaan Sasak?
6. AI → Generasi Muda
Tantangan terbesar bukan membuat Lontar Sasak menjadi digital. Tantangan terbesar adalah membuat generasi muda merasa bahwa pengetahuan tersebut masih memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.
Lontar dapat diperkenalkan melalui teknologi yang mereka gunakan: pencarian digital, aplikasi pembelajaran, visualisasi, cerita interaktif, audio pembacaan, terjemahan, dan sistem tanya jawab berbasis pengetahuan yang sumbernya jelas.
Dengan pendekatan tersebut, generasi muda tidak hanya diberi pesan: “Ini budaya leluhur, jadi harus dilestarikan.”
Mereka justru dapat diajak bertanya: “Apa yang bisa saya temukan tentang diri saya dan masyarakat saya dari naskah ini?”
Apakah digitalisasi meningkatkan ketertarikan, pengetahuan, penggunaan, dan keterlibatan generasi muda terhadap Lontar Sasak?
Bukan Sekadar Digitalisasi, tetapi Ekosistem Pengetahuan
Dari berbagai penelitian tersebut dapat dirumuskan bahwa persoalan Lontar Sasak tidak berhenti pada pertanyaan apakah naskah sudah dipindai. Persoalan yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut mampu bergerak dari ruang arsip menuju ruang publik.
Sumber pengetahuan
Pelestarian
Ketercarian
Pengolahan
Pewaris pengetahuan
Enam Indikator Kajian
- Digitalisasi: sejauh mana naskah Lontar Sasak telah dikonversi dan diarsipkan secara digital.
- Ketercarian: sejauh mana informasi Lontar Sasak dapat ditemukan melalui mesin pencari.
- Keterbacaan mesin: sejauh mana teks dan aksara dapat diproses oleh teknologi digital.
- Keakuratan budaya: sejauh mana informasi digital dan keluaran AI dapat diverifikasi oleh sumber serta ahli budaya Sasak.
- Keterlibatan generasi muda: sejauh mana teknologi meningkatkan minat dan pemahaman generasi muda terhadap Lontar Sasak.
- Keberlanjutan: sejauh mana sistem digital, data, pengetahuan, dan keterlibatan masyarakat dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Pertanyaan Penelitian yang Lebih Tajam
Dari kerangka tersebut, kajian ini dapat dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian:
- Apakah digitalisasi Lontar Sasak benar-benar meningkatkan akses generasi muda terhadap pengetahuan budaya?
- Apakah keberadaan Lontar Sasak di internet membuatnya lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari?
- Bagaimana AI dapat membantu membaca, mengolah, dan menjelaskan isi Lontar Sasak tanpa menghilangkan konteks budayanya?
- Seberapa besar tingkat kepercayaan generasi muda terhadap informasi budaya yang diperoleh melalui AI?
- Siapa yang seharusnya memiliki otoritas dalam memverifikasi hasil AI terhadap pengetahuan yang bersumber dari Lontar Sasak?
- Apakah digitalisasi hanya menyelamatkan bentuk fisik naskah, atau juga berhasil menyelamatkan pengetahuan yang terkandung di dalamnya?
Kesimpulan
Lontar Sasak menghadapi tantangan yang berbeda dari masa lalu. Dahulu ancamannya terutama berupa kerusakan fisik dan hilangnya kemampuan membaca naskah. Kini muncul tantangan baru: pengetahuan tersebut dapat tersimpan secara digital tetapi tetap tidak dikenal oleh masyarakat.
Karena itu, masa depan Lontar Sasak tidak cukup hanya dengan digitalisasi. Diperlukan ekosistem yang menghubungkan naskah dengan teknologi pencarian, pendidikan, pengolahan data, dan kecerdasan buatan.
Pada titik inilah Google dan AI dapat dipandang bukan sebagai pengganti kebudayaan, tetapi sebagai jembatan menuju kebudayaan.
Namun jembatan tersebut harus dibangun dengan hati-hati. Teknologi boleh membantu membaca ingatan masa lalu, tetapi manusia tetap harus memastikan bahwa ingatan tersebut tidak berubah menjadi informasi yang kehilangan konteks, salah tafsir, atau terlepas dari masyarakat yang mewarisinya.
Mungkin pertanyaan terbesar tentang masa depan Lontar Sasak bukanlah “apakah lontar akan hilang?”, tetapi “apakah generasi berikutnya masih mampu menemukan makna yang tersimpan di dalamnya?”
Jika jawabannya ingin ditemukan, maka perjalanan itu dapat dimulai dari satu rangkaian sederhana: Lontar → Digitalisasi → Google → AI → Generasi Muda.
Catatan Riset
Tulisan ini dikembangkan sebagai kajian konseptual berdasarkan penelitian mengenai digitalisasi, preservasi, dan keberlanjutan Lontar Sasak serta perkembangan teknologi digital. Kajian tidak menempatkan AI sebagai pengganti filolog, budayawan, atau pemilik pengetahuan, melainkan sebagai teknologi bantu yang memerlukan verifikasi manusia.
Penulis: Aldi Nurrasyid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar