Minggu, 04 Oktober 2026

Tetebatu dan Jejak Panjang Pariwisata Menelusuri sejarah wisata Tetebatu sejak masa kolonial melalui kajian literatur

Sejarah Pariwisata Tetebatu | Aldi Nurrasyid — Nalar Sasak
Lokasi / Location: Desa Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur Lihat di Peta Nalar Sasak / View on Map
Nalar Sasak · Sejarah & Pariwisata

Tetebatu dan Jejak Panjang Pariwisata: Benarkah Desa Wisata Tertua di NTB?

Tetebatu’s Long Tourism History: Is It the Oldest Tourism Village in West Nusa Tenggara?

Ditulis oleh / Written by Aldi Nurrasyid
Metode penulisan / Writing method: Literature Research — Penelitian Kepustakaan
Bahasa / Languages: Bahasa Indonesia & English

PembukaIntroduction

Tetebatu memiliki perjalanan pariwisata yang berakar sejak masa kolonial. Rumah peristirahatan keluarga Soejono, kunjungan kolega Belanda, dan usaha penginapan warga menjadi bagian penting dalam perkembangannya. Riwayat ini membuat Tetebatu dikenal sebagai salah satu perintis pariwisata desa di Nusa Tenggara Barat. [3] [4]

Tetebatu has a tourism history rooted in the colonial period. The Soejono family’s retreat, visits by Dutch colleagues, and locally operated accommodation played important roles in its development. This history places Tetebatu among the pioneers of village tourism in West Nusa Tenggara.

Apakah Tetebatu merupakan desa wisata tertua di NTB? Jawabannya memerlukan ketelitian. Sumber resmi TNGR menyebutnya sebagai desa wisata tertua di Lombok, sementara artikel ANTARA menyebutnya salah satu desa wisata tertua di NTB. Perbedaan cakupan ini menjadi dasar pembahasan artikel. [1] [2]

Is Tetebatu the oldest tourism village in West Nusa Tenggara? The answer requires care. An official Mount Rinjani National Park source describes it as Lombok’s oldest tourism village, while an ANTARA article calls it one of the oldest in West Nusa Tenggara. This difference in geographical scope guides this article.

Metode Penulisan: Literature ResearchWriting Method: Literature Research

Artikel ini disusun menggunakan metode penelitian kepustakaan atau literature research. Bahan yang ditelaah meliputi publikasi lembaga pemerintah, artikel jurnal, dan laporan media daring yang memuat kesaksian keluarga serta pelaku wisata. Informasi dibandingkan dan disusun secara kronologis untuk menjelaskan perkembangan pariwisata Tetebatu.

This article uses literature research, drawing on government publications, a journal article, and online media reports containing accounts from family members and tourism practitioners. Information is compared and organized chronologically to explain the development of tourism in Tetebatu.

Kajian ini merupakan telaah naratif terhadap sumber yang dipilih, bukan tinjauan sistematis. Penulisan tidak mencakup wawancara lapangan, pemeriksaan langsung arsip kolonial, maupun inventarisasi seluruh desa wisata di NTB. Karena itu, kisah narasumber diperlakukan sebagai kesaksian yang dilaporkan, dan klaim tertua dibatasi sesuai cakupan sumber.

This is a narrative review of selected sources, rather than a systematic review. It does not include field interviews, direct examination of colonial archives, or an inventory of all tourism villages in the province. Reported personal accounts are therefore treated as testimony, and claims of being the oldest are limited to the scope of the sources.

Sekitar 1928: Rumah Peristirahatan dan Kunjungan AwalAround 1928: A Retreat and Early Visits

Laporan detikTravel berdasarkan keterangan Hj. Surdini Soeweno, menantu dr. Raden Soejono, mengaitkan awal kunjungan rekreasi dengan vila keluarga sekitar 1928. Vila tersebut menjadi tempat beristirahat pada akhir pekan. Koleganya, termasuk dokter Belanda, kemudian ikut berkunjung dan memperkenalkan Tetebatu melalui cerita dari mulut ke mulut. [3]

A detikTravel report drawing on the account of Hj. Surdini Soeweno, Dr. Raden Soejono’s daughter-in-law, links early recreational visits to the family villa around 1928. It served as a weekend retreat. His colleagues, including Dutch doctors, subsequently visited and helped introduce Tetebatu through word of mouth.

Tahun tersebut sebaiknya dipahami sebagai penanda riwayat kunjungan dalam cerita keluarga. Sumber yang digunakan tidak menunjukkan adanya keputusan penetapan resmi desa wisata pada 1928. Awal kegiatan rekreasi dan status administratif desa wisata merupakan dua hal yang perlu dibedakan.

That year is best understood as a marker of visits in the family account. The sources used do not establish a formal tourism-village designation in 1928. Early recreational activity and the administrative status of a tourism village need to be distinguished.

Setelah 1944 hingga 1970-an: Lahirnya Wisma SoejonoAfter 1944 to the 1970s: The Development of Wisma Soejono

Setelah dr. Raden Soejono meninggal pada 16 Februari 1944, rumah keluarga diteruskan oleh putranya, Raden Soeweno Soejono. Keluarga serta keturunan kolega sang dokter tetap datang bersilaturahmi. Pada 1970-an, Soeweno membangun kamar tambahan untuk menampung pengunjung. Rumah peristirahatan itu berkembang menjadi akomodasi yang dikenal sebagai Wisma Soejono. [4]

After Dr. Raden Soejono died on 16 February 1944, his son, Raden Soeweno Soejono, continued the family home. Relatives and descendants of the doctor’s colleagues kept visiting. In the 1970s, Soeweno added guest rooms. The retreat developed into accommodation known as Wisma Soejono.

Perubahan ini memperlihatkan peralihan dari penerimaan tamu dalam jaringan keluarga menuju pelayanan akomodasi yang lebih luas. Nama Soejono juga ditulis Soedjono dalam sejumlah publikasi. Dalam riwayat Tetebatu, wisma tersebut menjadi salah satu penghubung antara kunjungan awal dan perkembangan usaha pariwisata. [4]

This change shows a transition from receiving visitors through family networks to providing broader accommodation services. The name Soejono is also spelled Soedjono in several publications. In Tetebatu’s history, the guesthouse links early visits with the development of tourism businesses.

1980–1990-an: Meluasnya Usaha WisataThe 1980s–1990s: Tourism Businesses Expand

Travelmaker melaporkan pengembangan Wisma Soedjono kembali berlangsung pada 1980-an. Pada 1990-an, kawasan Tetebatu telah dikenal oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Pertumbuhan kunjungan turut mendorong penginapan, suvenir rumahan, dan transportasi. [5]

Travelmaker reports further expansion of Wisma Soedjono in the 1980s. By the 1990s, the Tetebatu area was known among domestic and international visitors. Growing visitation also supported accommodation, home-produced souvenirs, and transportation.

Dalam wawancara tahun 2019, Zohry Rahman, pendiri Green Ory Inn, menceritakan kedatangan backpacker dan kelompok wisata sebagai peluang usaha. Ia kemudian mendirikan penginapan, yang disusul tumbuhnya homestay lain. Green Ory Inn berada di Tetebatu Selatan; kisah ini menggambarkan perkembangan kawasan wisata yang lebih luas, bukan hanya batas administratif Desa Tetebatu. [6]

In a 2019 interview, Green Ory Inn founder Zohry Rahman described arrivals of backpackers and tour groups as a business opportunity. He established accommodation, followed by other homestays. Green Ory Inn is in Tetebatu Selatan; this account describes the wider tourism area, rather than only the administrative boundaries of Tetebatu village.

Masyarakat Belajar dan Mengelola PariwisataResidents Learn and Manage Tourism

Dalam laporan detikTravel tahun 2021, Mariani, Ketua Badan Pelaksana Desa Wisata saat itu, menjelaskan bahwa warga belajar bahasa, manajemen, dan pelayanan melalui Vila Soejono sebelum membuka homestay sendiri. Kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan pelayanan wisata menyebar kepada masyarakat. [7]

In a 2021 detikTravel report, Mariani, then chair of the village tourism implementing body, explained that residents learned languages, management, and hospitality through Vila Soejono before opening their own homestays. Her account illustrates how tourism-service skills spread within the community.

Penelitian dalam Warta Pariwisata pada 2022 menggambarkan pengembangan Tetebatu dan Kembang Kuning sebagai proses bottom-up atau tumbuh dari masyarakat. Kajian tersebut menyoroti homestay, BUMDes, dan koordinasi antarkomunitas. Temuan ini membantu menjelaskan perkembangan pariwisata dari usaha keluarga menuju keterlibatan warga yang lebih luas. [8]

A 2022 study in Warta Pariwisata describes development in Tetebatu and Kembang Kuning as a bottom-up process originating within the community. It highlights homestays, village-owned enterprises, and coordination among community groups. These findings help explain the transition from a family business to wider resident participation.

Alam dan Kehidupan Desa sebagai Pengalaman WisataNature and Village Life as Visitor Experiences

Profil Jadesta mencatat kegiatan beraktivitas di sawah, memberi makan sapi, mengolah kopi secara tradisional, belajar memasak, serta mengenal kerajinan dan kesenian. Pilihan wisata juga mencakup pengamatan burung, bersepeda, pendakian, dan kegiatan penanaman pohon. Pertanian, budaya, dan lingkungan menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan. [9]

The Jadesta profile lists activities such as working in rice fields, feeding cattle, processing coffee traditionally, learning to cook, and experiencing crafts and performing arts. Tourism options also include birdwatching, cycling, hiking, and tree planting. Agriculture, culture, and the environment form part of the visitor experience.

Gempa, Pandemi, dan Ajang InternasionalEarthquake, Pandemic, and International Participation

Laporan November 2021 menyebut sejumlah bangunan Wisma Soedjono rusak akibat gempa Lombok 2018. Pandemi COVID-19 memperberat keadaan. Pada waktu wawancara tersebut, layanan menginap sementara ditutup, sementara kunjungan melihat bangunan dan usaha kafe masih dilayani. Informasi ini merupakan catatan keadaan pada 2021, bukan keterangan kondisi terkini. [5]

A November 2021 report states that the 2018 Lombok earthquake damaged several buildings at Wisma Soedjono. COVID-19 compounded the difficulties. At the time of the interview, overnight accommodation was temporarily closed, while building visits and a café continued. This describes conditions in 2021, rather than the present situation.

Pada 2021, Tetebatu menjadi salah satu wakil Indonesia dalam ajang Best Tourism Villages UNWTO. Status keikutsertaan ini tercatat dalam profil Jadesta. Keikutsertaan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Tetebatu memenangkan penghargaan, tetapi menjadi bagian penting dalam perhatian internasional terhadap desa. [9]

In 2021, Tetebatu was one of Indonesia’s representatives in the UNWTO Best Tourism Villages initiative, as recorded in its Jadesta profile. Participation alone does not establish that Tetebatu won an award, but it is an important part of the village’s international visibility.

Benarkah Desa Wisata Tertua di NTB?Is It the Oldest Tourism Village in West Nusa Tenggara?

Publikasi resmi Balai TNGR tentang kegiatan Desember 2020 menyebut Tetebatu sebagai desa wisata tertua di Lombok. Artikel ANTARA pada Juli 2022 menggunakan rumusan salah satu desa wisata tertua di NTB. Berdasarkan sumber tersebut, rumusan kedua lebih tepat untuk pernyataan yang mencakup seluruh provinsi. [1] [2]

An official national park publication about a December 2020 event calls Tetebatu Lombok’s oldest tourism village. An ANTARA article from July 2022 uses the wording one of the oldest tourism villages in West Nusa Tenggara. Based on these sources, the latter formulation is more appropriate for a province-wide statement.

Usia desa, awal kunjungan rekreasi, perkembangan penginapan, dan penetapan resmi desa wisata tidak dapat disamakan. Untuk menetapkan yang paling tua di seluruh NTB, diperlukan perbandingan sejarah desa wisata di Lombok dan Sumbawa dengan ukuran yang konsisten. Kajian ini belum menyediakan pembuktian komparatif tersebut.

The age of a settlement, the start of recreational visits, the development of accommodation, and formal tourism-village designation are not interchangeable. Establishing the oldest across the province would require a historical comparison of tourism villages in Lombok and Sumbawa using consistent criteria. This review does not provide that comparative proof.

Menjaga Jejak Sejarah TetebatuPreserving Tetebatu’s Historical Record

Tetebatu merupakan salah satu desa wisata tertua di Nusa Tenggara Barat dan disebut oleh Balai TNGR sebagai desa wisata tertua di Pulau Lombok. Riwayatnya memperlihatkan hubungan antara keluarga perintis, kunjungan berulang, usaha akomodasi, dan keterlibatan masyarakat. [1] [2] [4]

Tetebatu is one of the oldest tourism villages in West Nusa Tenggara and is described by the national park authority as Lombok’s oldest tourism village. Its history shows connections between a pioneering family, repeat visits, accommodation businesses, and community participation.

Dokumentasi foto, arsip penginapan, surat keluarga, serta kesaksian pelaku wisata layak dihimpun untuk memperjelas perjalanan tersebut. Dengan sumber yang lebih lengkap, sejarah Tetebatu dapat ditulis semakin akurat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Photographs, accommodation records, family correspondence, and accounts from tourism practitioners deserve to be collected to clarify this history. With a fuller body of evidence, Tetebatu’s tourism history can be documented more accurately and passed on to future generations.

Sumber BacaanReferences

Sumber daring ditelaah pada 5 Oktober 2026. Tanggal historis dan kondisi usaha mengikuti waktu yang disebut dalam sumber.
Online sources reviewed on 5 October 2026. Historical dates and business conditions are reported for the periods specified by the sources.

  1. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Penandatanganan Bersama Piagam Rinjani (19 Desember 2020).
  2. ANTARA. Mahasiswa KKN Unram: Pemulihan Pariwisata di Desa Tetebatu Pasca Pandemi COVID-19 (28 Juli 2022).
  3. detikTravel. Raden Soejono, dari Penyelamat Nyawa Hingga Pionir Pariwisata (28 Desember 2021).
  4. detikTravel. Vila Soejono, Cikal Bakal Desa Wisata Terindah Dunia dari Lombok (29 Desember 2021).
  5. Travelmaker Indonesia. Intip dari Dekat Kondisi Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu (26 November 2021).
  6. NewsPlusLombok. Geliat Semangat Pariwisata Tetebatu (26 Oktober 2019).
  7. detikTravel. Di Desa Ini, Tak Boleh Ada Bule yang Buka Penginapan (28 Desember 2021).
  8. Lazuardina, Annisa, dkk. Identifikasi Tahapan Pengembangan Community Based Tourism dan Kerjasama Antar Komunitas pada Desa Wisata Kembang Kuning dan Tetebatu NTB. Warta Pariwisata (2022). DOI: 10.5614/wpar.2022.20.2.04.
  9. Jadesta, Kementerian Pariwisata. Desa Wisata Tetebatu.
Penulis / Author: Aldi Nurrasyid · Nalar Sasak · Metode / Method: Literature Research

Tidak ada komentar:

Posting Komentar