Kebakaran Desa Adat Sade dan Upaya Menyelamatkan Warisan Budaya Sasak
Oleh: Aldi Nurrasyid
Kategori: Berita Budaya | Sejarah Sasak | Pelestarian Warisan
Kebakaran yang terjadi di Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, menjadi perhatian besar karena tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik kawasan adat, tetapi juga mengancam keberlangsungan warisan budaya masyarakat Sasak. Berdasarkan laporan awal Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, peristiwa tersebut telah memberikan dampak serius terhadap bangunan tradisional, benda budaya, perangkat ritual, kesenian, tenun, pusaka, serta pengetahuan budaya masyarakat Sade yang diwariskan secara turun-temurun.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kawasan adat bukan hanya sekadar kumpulan bangunan tradisional, tetapi merupakan ruang kehidupan yang menyimpan nilai sejarah, sosial, dan budaya masyarakat Sasak. Pemerintah daerah menilai bahwa pemulihan Sade tidak dapat dipandang hanya sebagai pembangunan kembali permukiman, melainkan sebagai proses pemulihan kebudayaan secara menyeluruh.
Sade Bukan Sekadar Bangunan Tradisional
Desa Adat Sade selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan budaya Sasak di Lombok. Rumah tradisional, lumbung, berugak, serta ruang adat memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan bangunan biasa.
Laporan awal menyebutkan bahwa dampak kebakaran mencakup berbagai komponen kawasan adat, termasuk rumah tradisional/adat, masjid, berugak, lumbung alang, artshop, Bale Beleq, fasilitas wisata, hingga gerbang kawasan adat. Data awal mencatat sebanyak 75 unit rumah tradisional/adat terdampak.
Kerusakan tersebut bukan hanya kehilangan material, tetapi juga kehilangan ruang tempat masyarakat menjalankan kehidupan sosial dan budaya. Rumah tradisional Sade merupakan bagian dari sistem sosial, tata ruang, tradisi keluarga, dan identitas masyarakat Sasak.
Hilangnya Jejak Pengetahuan Budaya
Salah satu dampak terbesar dari kebakaran ini adalah hilangnya berbagai benda budaya yang memiliki nilai sejarah.
Perangkat kesenian tradisional seperti gendang beleq, kenceng, trompong, gong, serta perlengkapan begawi dilaporkan mengalami kerusakan dan sebagian besar musnah.
Selain itu, masyarakat juga kehilangan sejumlah benda pusaka seperti keris, tombak, kelewang, dan benda warisan lainnya. Berdasarkan informasi awal masyarakat, setiap rumah diperkirakan memiliki sekitar tiga keris, sehingga terdapat estimasi awal sekitar 225 keris yang perlu diverifikasi lebih lanjut.
Tidak hanya benda fisik, beberapa naskah lontar yang menjadi bagian dari warisan pengetahuan leluhur seperti Jatiswara dan Puspakarma juga dilaporkan ikut musnah. Kehilangan tersebut memiliki nilai budaya yang besar karena lontar merupakan sumber pengetahuan, sejarah, nilai, dan pandangan hidup masyarakat.
Ancaman terhadap Warisan Budaya Takbenda
Kebudayaan tidak hanya tersimpan dalam benda, tetapi juga hidup melalui praktik masyarakat.
Kebakaran ini berpotensi mengganggu berbagai warisan budaya takbenda seperti ritual adat, begawi, presean, musik tradisional, hingga keterampilan menenun yang selama ini diwariskan antar-generasi.
Tenun Sasak menjadi salah satu bagian penting yang terdampak karena berkaitan dengan keterampilan tradisional, simbol budaya, identitas masyarakat, serta sumber ekonomi budaya. Sebagian besar peralatan tenun dan hasil tenunan lama yang tersimpan di rumah masyarakat dilaporkan hilang akibat kebakaran.
Pemulihan Sade: Membangun Kembali dengan Nilai Budaya
Pemulihan Desa Adat Sade membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Dokumentasi, penyelamatan pengetahuan, dan pelibatan masyarakat adat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Dinas Kebudayaan NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB telah melakukan langkah awal berupa identifikasi dampak, penggalian informasi dari tokoh adat dan masyarakat, pendataan benda budaya yang hilang maupun terselamatkan, serta persiapan dokumentasi lanjutan.
Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah menyelamatkan pengetahuan dari para tetua adat, tokoh masyarakat, pelaku ritual, penenun, seniman, dan pihak-pihak yang memahami sejarah Sade. Prinsip yang ditekankan adalah bahwa benda yang hilang masih mungkin direkonstruksi, tetapi pengetahuan yang tidak sempat didokumentasikan dapat hilang selamanya.
Sade Digital Heritage: Menjaga Ingatan Melalui Teknologi
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya digitalisasi warisan budaya.
Pengembangan dokumentasi digital dapat menjadi salah satu cara menjaga memori kolektif masyarakat melalui foto, video, pemetaan kawasan, dokumentasi arsitektur, ritual, tenun, gamelan, pusaka, serta arsip budaya lainnya.
Bagi Nalar Sasak, langkah ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya alat modernisasi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menjaga identitas dan sejarah lokal.
Catatan Nalar Sasak
Kebakaran Desa Adat Sade menjadi pelajaran bahwa budaya tidak hanya berada pada bangunan tua atau benda peninggalan, tetapi hidup dalam ingatan, pengetahuan, dan praktik masyarakat.
Sade tidak hanya perlu dibangun kembali secara fisik, tetapi juga perlu dipulihkan sebagai ruang kehidupan budaya.
Karena pada akhirnya, menjaga warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu, tetapi memastikan generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk memahami siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Nalar Sasak
Merawat Ingatan, Membaca Zaman

Komentar
Posting Komentar