Oleh: Aldi Nurrasyid &am; Hendra Masha Putra
Kami pernah bersinggungan dengan aktivitas pariwisata, khususnya dalam urusan akomodasi dan pihak perantara. Dari pengalaman sederhana tersebut, kami pernah menemukan harga awal sebuah kamar sekitar Rp350.000, sementara melalui pihak perantara kamar tersebut ditawarkan hingga sekitar Rp1.500.000.
Bagi kami, persoalannya bukan semata-mata soal harga. Kami memahami bahwa setiap orang yang bekerja tentu ingin mendapatkan keuntungan. Pihak perantara juga memiliki peran, tenaga, waktu, jaringan, dan risiko dalam menjalankan pekerjaannya. Karena itu, kami tidak melihat keuntungan sebagai sesuatu yang salah. Yang kemudian membuat kami berpikir adalah: apakah cara kita menjalankan bisnis pariwisata hari ini sudah cukup sehat untuk masa depan?
Perbedaan harga yang sangat jauh tentu tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Bisa saja ada layanan tambahan, biaya pemasaran, komisi, atau faktor lain yang memang menjadi bagian dari transaksi. Tetapi ketika kami melihat sendiri perbedaan tersebut, kami merasa ada satu hal yang perlu lebih diperhatikan, yaitu transparansi.
Wisatawan berhak mendapatkan informasi yang jelas. Penyedia jasa juga berhak mengetahui bagaimana produknya dipasarkan. Pihak perantara pun berhak mendapatkan keuntungan yang layak atas nilai yang mereka berikan.
Menurut kami, semua pihak sebenarnya memiliki kepentingan yang sama: membuat wisatawan merasa puas dan percaya. Karena kalau wisatawan merasa mendapatkan pengalaman yang baik, mereka akan kembali. Mereka akan merekomendasikan kepada keluarga dan teman. Pada akhirnya, hotel mendapatkan manfaat, pelaku usaha mendapatkan manfaat, masyarakat mendapatkan manfaat, dan pariwisata daerah ikut berkembang. Sebaliknya, kalau kita terlalu fokus pada keuntungan dari satu transaksi, kita mungkin mendapatkan hasil yang besar hari ini, tetapi belum tentu mendapatkan kepercayaan untuk hari esok. Inilah yang menurut kami perlu sama-sama dipikirkan. Pariwisata bukan hanya tentang bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Pariwisata juga tentang bagaimana membuat mereka merasa nyaman, mendapatkan pelayanan yang layak, dan membawa pulang pengalaman yang baik.
Kita juga perlu bertanya lebih jauh: ketika wisatawan datang, siapa saja yang benar-benar mendapatkan manfaat dari kedatangan mereka?Apakah hanya hotel?
Apakah hanya agen atau perantara?
Ataukah manfaat tersebut juga sampai kepada pengemudi, pedagang kecil, UMKM, pekerja lokal, masyarakat sekitar, dan berbagai pihak lain yang menjadi bagian dari pariwisata?
Kami tidak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun. Kami juga tidak mengatakan bahwa semua perantara melakukan hal yang sama. Kami hanya menyampaikan apa yang pernah kami lihat dan bagaimana pengalaman tersebut membuat kami berpikir tentang kondisi pariwisata kita.
Menurut kami, kritik seperti ini justru diperlukan. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat apa yang masih bisa diperbaiki.
Kalau ada sistem yang sudah baik, mari dipertahankan.
Kalau ada yang kurang transparan, mari diperbaiki.
Kalau ada pelaku usaha yang belum mendapatkan manfaat yang cukup, mari dicari jalan keluarnya.
Dan kalau ada cara yang lebih baik untuk melayani wisatawan, mari kita kembangkan bersama.
NTB memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Kita memiliki alam, budaya, masyarakat, dan berbagai destinasi yang tidak kalah dengan daerah lain. Karena itu, menurut kami, yang perlu kita jaga bukan hanya jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga kepercayaan mereka terhadap NTB. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar keuntungan hari ini, tetapi lupa bahwa pariwisata adalah perjalanan jangka panjang.
Wisatawan bisa datang sekali karena promosi.
Tetapi mereka akan kembali karena pengalaman.
Dan pengalaman yang baik hanya bisa lahir dari ekosistem yang sehat.
Pada akhirnya, kami tidak ingin melihat siapa yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Kami ingin melihat bagaimana semua pihak dapat tumbuh bersama dari pariwisata. Karena kalau pariwisata NTB ingin bertahan dan berkembang dalam jangka panjang, mungkin yang paling penting bukan hanya bagaimana kita menjual destinasi. Tetapi bagaimana kita menjaga kepercayaan.
Aldi Nurrasyid & Hendra Masha Putra

Komentar
Posting Komentar