Beranda / Artikel

Ketika Orang Sasak Menulis Dunia Mereka: Takepan, Pepaosan, dan Ingatan yang Hampir Kita Tinggalkan

Menghitung waktu baca…

SEJARAH • KEBUDAYAAN • GAGASAN

Oleh: Aldi Nurrasyid
Penggagas Nalar Sasak

Pada tulisan sebelumnya, kita mencoba melihat kembali satu kenyataan yang sering luput ketika berbicara mengenai masyarakat Sasak.

Bahwa masyarakat Sasak memiliki perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang daripada usia pariwisata Lombok.

Lebih panjang daripada usia Republik Indonesia.

Bahkan lebih panjang daripada banyak institusi modern yang hari ini kita anggap sebagai bagian penting dari kehidupan.

Tetapi perjalanan sejarah selalu melahirkan pertanyaan berikutnya.

Jika masyarakat Sasak telah hidup melalui perjalanan sepanjang itu, bagaimana mereka menyimpan pengetahuan? / Bagaimana sebuah generasi berbicara kepada generasi setelahnya? / Bagaimana sejarah, agama, adat, pengobatan, silsilah, dan cerita diwariskan ketika belum ada sekolah modern, internet, perpustakaan digital, bahkan mesin cetak?

Sebagian jawabannya ternyata masih berada di tengah kita.

Pada lembaran-lembaran tua.

Pada aksara yang hari ini mungkin tidak lagi mampu dibaca oleh sebagian besar generasi muda.

Pada takepan.

Pada babad.

Pada aksara Jejawan.

Pada tradisi pepaosan.

Dan pada naskah-naskah yang selama berabad-abad menjadi salah satu tempat masyarakat Lombok menyimpan cerita tentang dirinya sendiri.

Ironisnya, benda-benda itu mungkin masih berada tidak jauh dari kita.

Tetapi pengetahuan untuk membacanya perlahan terasa semakin jauh.

Sebelum Kita Mengenal Buku Cetak, Ada Pengetahuan yang Ditulis di Atas Daun

Hari ini menulis adalah sesuatu yang sangat mudah.

Kita membuka telepon genggam.

Menekan papan ketik.

Dalam hitungan detik sebuah tulisan dapat disimpan, dikirim, dan dibaca oleh ribuan orang.

Tetapi bayangkan Lombok beberapa ratus tahun lalu.

Tidak ada komputer.

Tidak ada mesin cetak modern.

Tidak ada Google.

Tidak ada media sosial.

Tidak ada penyimpanan awan.

Untuk meninggalkan sebuah tulisan, seseorang harus mengetahui aksara.

Harus memahami bahasa.

Harus menyiapkan media untuk menulis.

Dan setelah tulisan itu selesai, harus ada orang yang bersedia menjaga, membaca, menyalin, serta meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Di Lombok, salah satu bentuk warisan tertulis tersebut dikenal sebagai takepan.

Sejumlah penelitian mengenai naskah Sasak menjelaskan bahwa banyak takepan ditulis pada lembaran daun lontar dengan menggunakan aksara yang dikenal masyarakat Sasak sebagai aksara Jejawan.

Tetapi melihat takepan hanya sebagai benda tua tentu terlalu sederhana.

Yang berada di depan kita bukan sekadar daun yang telah mengering.

Di sana terdapat pikiran manusia.

Ada seseorang yang pernah duduk dan menulis.

Ada sesuatu yang pada zamannya dianggap cukup penting sehingga tidak boleh dibiarkan hilang bersama ingatan.

Siapa orang yang menulisnya? / Apa yang ingin mereka sampaikan? / Mengapa pengetahuan itu dianggap penting untuk disimpan? / Dan mengapa setelah berabad-abad berlalu, kita justru semakin sulit membacanya?

Sasak Ternyata Memiliki Tradisi Tulis yang Panjang

Kajian Jamaluddin mengenai sejarah tradisi tulis masyarakat Sasak memberikan gambaran yang menarik.

Dalam tradisi manuskrip Lombok ditemukan penggunaan berbagai sistem tulisan dan bahasa.

Ada Jawa Kuno.

Ada Jejawan.

Ada aksara Arab.

Ada Jawi atau Arab Melayu.

Ada pula pengaruh tradisi tulis Bali dan wilayah-wilayah lain di Nusantara.

Bahasa yang digunakan dalam berbagai naskah juga memperlihatkan perjumpaan masyarakat Lombok dengan lingkungan budaya yang lebih luas.

Sasak.

Jawa.

Bali.

Melayu.

Arab.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa Lombok masa lalu tidak dapat dibayangkan sebagai pulau yang sepenuhnya terisolasi dari dunia luar.

Ada hubungan.

Ada perpindahan manusia.

Ada pertukaran pengetahuan.

Ada cerita yang datang.

Ada gagasan yang diterima.

Kemudian semuanya diolah kembali dalam ruang kebudayaan masyarakat Lombok.

Lombok masa lalu ternyata bukan hanya menerima cerita dari luar. / Masyarakatnya membaca, menyalin, menerjemahkan, menafsirkan, lalu menuliskan kembali dunia dalam bahasa dan cara mereka sendiri.

Ini penting.

Sebab kita sering menilai kemajuan masyarakat masa lalu hanya berdasarkan bangunan besar yang mereka tinggalkan.

Padahal sebuah peradaban tidak selalu meninggalkan istana raksasa.

Peradaban juga dapat tersimpan dalam tulisan.

Dalam bahasa.

Dalam aturan adat.

Dalam pengetahuan mengenai alam.

Dalam cara mengobati penyakit.

Dalam silsilah.

Dalam cerita.

Dan dalam cara suatu masyarakat memahami Tuhan, manusia, keluarga, kekuasaan, kematian, serta dunia di sekelilingnya.

Apa yang Sebenarnya Ditulis oleh Masyarakat Sasak?

Inilah bagian yang menarik.

Manuskrip Sasak tidak hanya berbicara mengenai satu bidang kehidupan.

Kajian terhadap naskah-naskah Lombok menunjukkan adanya manuskrip yang berhubungan dengan agama, sastra, sejarah, adat, hukum, silsilah, pengobatan tradisional, ramalan, hingga berbagai cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Ada babad.

Ada hikayat.

Ada teks keagamaan.

Ada silsilah keluarga dan penguasa.

Ada pengetahuan mengenai pengobatan.

Ada cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi lainnya.

Artinya, manuskrip tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan hiburan.

Ia juga menjadi salah satu ruang penyimpanan pengetahuan masyarakat.

Apa yang hari ini kita pisahkan menjadi buku sejarah, buku agama, buku sastra, buku pengobatan, catatan keluarga, dan catatan adat, pada masa lalu dapat hidup dalam tradisi manuskrip.

Tetapi ada satu hal yang perlu ditegaskan.

Kita tidak boleh memperlakukan semua isi manuskrip sebagai fakta sejarah secara otomatis.

Babad bukan laporan jurnalistik modern.

Cerita dapat bercampur dengan simbol.

Ingatan dapat bercampur dengan legenda.

Silsilah dapat memiliki kepentingan politik.

Karena itu naskah lama harus dibaca secara kritis.

Dibandingkan dengan sumber lain.

Diletakkan bersama bukti arkeologi.

Diuji dengan penelitian sejarah.

Dan dipahami dalam konteks zaman ketika naskah tersebut ditulis atau disalin.

Apakah semua yang tertulis dalam babad harus dipercaya begitu saja? / Tentu tidak. / Tetapi apakah karena tidak semuanya dapat dibaca sebagai fakta lalu manuskrip menjadi tidak penting? / Justru sebaliknya: di sanalah kita dapat melihat bagaimana masyarakat masa lalu mengingat dan memahami dunianya.

Tugas generasi sekarang bukan menyembah masa lalu.

Tugasnya adalah memahaminya.

Manuskrip Itu Tidak Selalu Dibaca dalam Kesunyian

Hari ini kita sering membayangkan membaca sebagai kegiatan pribadi.

Seseorang memegang buku.

Kemudian membaca sendiri dalam kesunyian.

Tetapi dalam tradisi Sasak dikenal pula sebuah ruang sosial bernama pepaosan.

Sejumlah kajian menggambarkan pepaosan sebagai tradisi pembacaan naskah takepan yang hidup dalam masyarakat Sasak.

Dalam praktiknya, pepaosan bukan sekadar kegiatan membunyikan tulisan.

Ada teks yang dibaca.

Ada bagian yang diterjemahkan atau dijelaskan.

Ada orang-orang yang mendengarkan.

Ada nilai yang dibicarakan.

Ada pengetahuan yang berpindah.

Dengan demikian, takepan adalah teks.

Tetapi pepaosan membuat teks itu menjadi peristiwa sosial.

Pengetahuan tidak berhenti pada orang yang mampu membaca aksara.

Ia dibacakan kepada orang lain.

Dijelaskan.

Didengar bersama.

Kemudian hidup kembali dalam percakapan masyarakat.

Bukankah ini menarik? / Jauh sebelum kita mengenal seminar, podcast, ruang diskusi daring, atau video edukasi, masyarakat telah memiliki caranya sendiri untuk membuat pengetahuan dibaca, didengar, dijelaskan, dan diteruskan bersama.

Bayangkan Kalau Takepan Kita Lihat dengan Cara yang Berbeda

Seorang anak Sasak hari ini mungkin melihat lontar tua kemudian bertanya:

“Untuk apa benda seperti ini?”

Pertanyaan itu dapat dimengerti.

Dunia kita memang berbeda.

Tetapi coba kita balik pertanyaannya.

Apa yang akan dipikirkan seseorang yang hidup tiga ratus tahun lalu apabila melihat manusia hari ini menyimpan hampir seluruh kehidupannya di dalam sebuah benda kecil bernama telepon genggam?

Foto keluarga.

Percakapan.

Catatan.

Dokumen.

Buku.

Video.

Identitas.

Transaksi.

Dan berbagai bentuk ingatan.

Semuanya disimpan dalam sebuah perangkat.

Mungkin bagi mereka itu terasa aneh.

Sama seperti sebagian dari kita menganggap aneh sebuah daun lontar yang dipenuhi tulisan.

Padahal fungsi dasarnya tidak sepenuhnya berbeda.

Manusia selalu membutuhkan tempat untuk menyimpan ingatan.

Medianya yang berubah.

Dulu daun.

Kemudian kertas.

Hari ini server dan ruang digital.

Besok mungkin sesuatu yang belum dapat kita bayangkan.

Kita Bisa Menyimpan Bendanya, tetapi Kehilangan Kemampuan Membacanya

Inilah persoalan yang jauh lebih serius.

Warisan budaya tidak selalu hilang karena dibakar.

Tidak selalu hilang karena dicuri.

Tidak selalu hilang karena dihancurkan.

Kadang benda itu tetap berada di depan mata.

Tetapi tidak ada lagi yang memahami maknanya.

Sebuah manuskrip dapat disimpan dengan sangat baik.

Namun apabila tidak ada orang yang mampu membaca aksaranya, memahami bahasanya, mengetahui konteksnya, kemudian menjelaskan isinya kepada masyarakat, sebagian dari warisan itu sebenarnya telah kehilangan kehidupannya.

Bendanya bertahan.

Pengetahuannya terputus.

Apa gunanya kita memiliki ratusan naskah jika semakin sedikit orang mampu membacanya? / Apa gunanya kita menyimpan lontar jika makna di dalamnya tidak pernah diteruskan? / Dan apakah sebuah warisan masih benar-benar hidup apabila generasi yang mewarisinya tidak lagi memahami apa yang diwariskan?

Mungkin inilah salah satu ancaman terbesar terhadap warisan lokal hari ini.

Bukan hanya kehancuran benda.

Tetapi putusnya hubungan antara benda dan generasi yang mewarisinya.

Khazanah Itu Ada, Tetapi Berapa Banyak yang Benar-Benar Kita Kenal?

Berbagai penelitian dan inventarisasi menunjukkan bahwa khazanah manuskrip Lombok tidak dapat dianggap kecil.

Sebagian berada di lembaga penyimpanan.

Sebagian berada pada koleksi keluarga.

Sebagian telah diteliti.

Sebagian telah dialihaksarakan.

Dan sangat mungkin masih ada naskah yang belum terdokumentasi secara memadai.

Berapa banyak naskah yang sebenarnya masih tersimpan di tengah masyarakat? / Berapa judul yang kita kenal? / Berapa yang pernah kita baca? / Berapa yang sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan? / Berapa yang telah diteliti secara serius? / Dan berapa yang perlahan rusak tanpa pernah kita ketahui keberadaannya?

Pertanyaan seperti ini tidak dapat hanya dibebankan kepada museum.

Tidak hanya kepada pemerintah.

Tidak hanya kepada kampus.

Tidak hanya kepada budayawan.

Sebab yang sedang dibicarakan bukan hanya koleksi benda.

Yang sedang dibicarakan adalah ingatan sebuah masyarakat.

Digitalisasi Memberi Harapan, tetapi Memotret Naskah Saja Tidak Cukup

Teknologi sebenarnya memberi peluang yang tidak pernah dimiliki oleh generasi sebelumnya.

Manuskrip dapat dipindai.

Dapat difoto dalam resolusi tinggi.

Dapat disimpan dalam banyak salinan.

Dapat dibagikan melalui internet.

Bahkan sejumlah penelitian telah mencoba menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan keterbacaan citra naskah takepan Sasak yang mengalami kerusakan atau penurunan kualitas.

Penelitian lain juga mendorong digitalisasi naskah kuno Sasak sebagai salah satu bentuk perlindungan dan pelestarian kebudayaan.

Ini memberi kita kemungkinan baru.

Bayangkan suatu hari seorang anak muda Sasak membuka sebuah situs melalui telepon genggamnya.

Di sana tersedia gambar manuskrip asli.

Di sampingnya ada hasil alih aksara.

Kemudian tersedia terjemahan bahasa Indonesia.

Lalu ada penjelasan mengenai konteks sejarah, istilah, tokoh, tempat, serta zaman ketika naskah itu hidup.

Jika dilakukan dengan serius, teknologi bukan musuh tradisi.

Teknologi justru dapat menjadi kendaraan baru bagi tradisi.

Tetapi digitalisasi saja belum cukup.

Apakah memotret manuskrip berarti kita sudah memahami isinya? / Apakah mengunggahnya ke internet otomatis membuat generasi muda mampu membacanya? / Apakah digitalisasi cukup jika tidak ada alih aksara, terjemahan, penelitian, dan pendidikan yang mengikutinya?

Jawabannya tentu tidak.

Kita masih membutuhkan filolog.

Sejarawan.

Ahli bahasa.

Peneliti agama.

Budayawan.

Pemilik naskah.

Tetua masyarakat.

Dan terutama generasi muda yang bersedia mempelajarinya.

Ada Persoalan Lain: Siapa yang Berhak atas Warisan Itu?

Dunia digital juga melahirkan persoalan yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh penulis takepan berabad-abad lalu.

Sebuah manuskrip dapat difoto.

Kemudian diunggah.

Disalin.

Diperbanyak.

Digunakan sebagai desain.

Bahkan dapat dikomersialkan oleh pihak yang tidak memiliki hubungan dengan komunitas asalnya.

Kajian hukum mengenai Takepan Sasak juga telah membicarakan posisinya dalam perlindungan ekspresi budaya tradisional dan hukum hak cipta di Indonesia.

Ini menunjukkan bahwa pelestarian pada zaman sekarang tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menyimpan warisan.

Kita juga harus berbicara mengenai hak.

Akses.

Etika.

Kepemilikan.

Dan posisi masyarakat asal dalam pengelolaan pengetahuan budaya mereka.

Bagaimana membuka manuskrip agar dapat dipelajari banyak orang tanpa menghilangkan hak masyarakat pemilik tradisi? / Bagaimana digitalisasi dilakukan tanpa mengubah warisan menjadi sekadar komoditas? / Dan siapa yang seharusnya menentukan bagaimana pengetahuan budaya Sasak digunakan di masa depan?

Ada Sebuah Ironi yang Sulit Kita Hindari

Leluhur kita hidup ketika menulis sangat sulit.

Tetapi mereka menulis.

Kita hidup ketika menulis menjadi sangat mudah.

Tetapi semakin sedikit yang merasa perlu mendokumentasikan kehidupan masyarakatnya sendiri.

Mereka menulis dengan peralatan sederhana.

Kita memiliki kamera.

Perekam suara.

Komputer.

Internet.

Penyimpanan digital.

Bahkan kecerdasan buatan.

Tetapi alat yang semakin canggih tidak otomatis menghasilkan ingatan yang lebih baik.

Berapa banyak sejarah desa yang telah kita tulis? / Berapa banyak cerita orang tua yang telah kita rekam? / Berapa banyak istilah Sasak yang mulai jarang digunakan yang kita dokumentasikan? / Berapa banyak sejarah kampung yang kita kumpulkan? / Berapa banyak manuskrip keluarga yang kita identifikasi sebelum rusak atau berpindah tangan?

Mungkin masalah generasi kita sebenarnya bukan kekurangan alat.

Kita memiliki alat yang bahkan tidak pernah dapat dibayangkan oleh generasi sebelumnya.

Masalahnya mungkin lebih sederhana.

Kita belum selalu merasa bahwa kehidupan masyarakat kita sendiri cukup penting untuk dicatat.

Suatu Hari Generasi Mendatang Akan Mencari Kita

Coba bayangkan seratus tahun dari sekarang.

Seseorang mungkin ingin mengetahui bagaimana masyarakat Sasak hidup pada awal abad ke-21.

Mereka mungkin ingin mengetahui bagaimana bahasa Sasak digunakan.

Bagaimana desa-desa berubah.

Bagaimana pariwisata mengubah Lombok.

Bagaimana Mandalika berkembang.

Bagaimana bentuk rumah berubah.

Bagaimana pola pernikahan berubah.

Bagaimana tanah pertanian berpindah fungsi.

Bagaimana anak muda Sasak memahami identitasnya.

Dan bagaimana internet mengubah hubungan sosial masyarakat.

Mereka akan mencari jawaban.

Apa yang akan mereka temukan dari generasi kita? / Apakah hanya unggahan media sosial tanpa konteks? / Atau mereka akan menemukan arsip, wawancara, foto yang terdokumentasi, sejarah desa, catatan keluarga, buku, penelitian, dan tulisan yang sengaja kita tinggalkan untuk mereka?

Pertanyaan ini mungkin terasa jauh.

Tetapi sesungguhnya begitulah manuskrip lama sampai kepada kita.

Seseorang pada masa lalu memilih untuk menulis.

Seseorang memilih untuk menyimpan.

Seseorang memilih untuk menyalin.

Seseorang memilih untuk tidak membuangnya.

Berabad-abad kemudian, kita membacanya.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menghidupkan Bentuknya, tetapi Semangatnya

Kita tentu tidak harus kembali menulis seluruh pengetahuan di atas daun lontar.

Zaman telah berubah.

Tetapi semangat di balik tradisi itu justru semakin penting.

Semangat mencatat.

Semangat membaca.

Semangat menerjemahkan.

Semangat mendiskusikan pengetahuan.

Semangat mengajarkan.

Dan semangat meninggalkan sesuatu kepada generasi berikutnya.

Takepan dapat memasuki ruang digital.

Pepaosan dapat menemukan medium baru.

Babad dapat dikaji kembali.

Aksara Jejawan dapat diajarkan melalui layar.

Cerita orang tua dapat direkam.

Sejarah desa dapat ditulis.

Pengetahuan lokal dapat didokumentasikan.

Bentuknya boleh berubah.

Tetapi mata rantai pengetahuannya tidak boleh putus.

Jangan Biarkan Masa Depan Sasak Hanya Ditulis oleh Orang Lain

Banyak hal mengenai masyarakat Sasak telah ditulis oleh peneliti dari luar Lombok.

Kita patut menghargai pekerjaan mereka.

Tanpa penelitian tersebut, mungkin banyak bagian sejarah Lombok lebih sulit kita pelajari hari ini.

Tetapi generasi Sasak juga memiliki pekerjaan rumah.

Kita tidak boleh selamanya hanya menjadi objek penelitian.

Kita juga harus menjadi peneliti.

Tidak hanya menjadi orang yang diwawancarai.

Kita juga harus menjadi orang yang mewawancarai.

Tidak hanya menjadi masyarakat yang kebudayaannya difoto.

Kita juga perlu membangun arsip foto sendiri.

Tidak hanya menjadi masyarakat yang sejarahnya dituliskan.

Kita juga harus belajar menulis sejarah kita.

Bukan untuk menciptakan satu versi sejarah yang tidak boleh diperdebatkan.

Justru sebaliknya.

Agar semakin banyak sumber.

Semakin banyak suara.

Semakin banyak perspektif.

Dan semakin banyak generasi Sasak yang berani bertanya tentang dirinya sendiri.

Sampai kapan orang Sasak hanya menjadi bahan penelitian? / Kapan kita semakin banyak melahirkan peneliti Sasak yang menulis kampungnya sendiri? / Kapan anak-anak muda mulai melihat sejarah lokal bukan sebagai cerita kuno, tetapi sebagai sesuatu yang penting untuk memahami masa depan?

Peradaban Tidak Hanya Diwariskan melalui Darah

Kita sering berbicara mengenai keturunan.

Tentang siapa leluhur kita.

Tentang dari mana sebuah keluarga berasal.

Tentang siapa yang lebih dahulu tinggal di suatu tempat.

Tetapi ada sesuatu yang mungkin lebih penting daripada sekadar hubungan darah.

Yaitu hubungan pengetahuan.

Seseorang dapat menjadi keturunan masyarakat yang memiliki tradisi intelektual panjang.

Tetapi apabila ia tidak pernah mengenalnya, warisan itu berhenti menjadi pengetahuan baginya.

Sebaliknya, ketika seorang anak mulai belajar aksara lama, membaca sejarah kampungnya, mewawancarai orang tua, membuka manuskrip, mendokumentasikan tradisi, kemudian menuliskannya kembali, ia sedang menyambungkan mata rantai yang hampir terputus.

Sebab warisan bukan hanya sesuatu yang kita terima. / Warisan adalah sesuatu yang kita pahami, kita rawat, kemudian kita pilih untuk teruskan.

Dari Lontar ke Layar

Mungkin beginilah kita dapat melihat perjalanan itu.

Dahulu seseorang menggoreskan aksara pada daun.

Kemudian orang lain membacakannya.

Seseorang menerjemahkannya.

Orang-orang mendengarkan.

Anak-anak mengingat.

Generasi berikutnya menyalin.

Berabad-abad kemudian, naskah itu sampai kepada kita.

Hari ini kita memegang layar.

Teknologinya berbeda.

Tetapi pertanyaan manusianya sebenarnya sama.

Apa yang cukup penting dari kehidupan kita sehingga harus diketahui generasi berikutnya? / Apa yang harus kita catat? / Apa yang harus kita simpan? / Dan ketika suatu hari kita semua telah menjadi masa lalu, jejak seperti apa yang ingin kita tinggalkan?

Masyarakat Sasak masa lalu telah memberi jawabannya dengan cara mereka sendiri.

Mereka menulis.

Mereka menyimpan.

Mereka membaca.

Mereka meneruskan.

Sekarang giliran kita.

Karena pada akhirnya persoalannya bukan lagi sekadar apakah masyarakat Sasak pernah memiliki tradisi intelektual.

Jejaknya ada.

Manuskripnya masih dapat ditemukan.

Penelitiannya juga telah dilakukan.

Pertanyaannya adalah: apakah kita masih ingin membacanya? / Apakah kita bersedia mempelajarinya? / Apakah kita akan meneruskannya? / Atau kita akan menjadi generasi yang membiarkan mata rantai pengetahuan itu berhenti pada kita?

Sebab suatu hari kita pun akan menjadi masa lalu.

Generasi setelah kita akan mencari jejak.

Mereka akan mencoba memahami siapa kita.

Apa yang kita pikirkan.

Apa yang kita perjuangkan.

Apa yang kita pertahankan.

Dan apa yang kita biarkan hilang.

Semoga ketika mereka mencarinya, kita tidak meninggalkan ruang kosong.


Aldi Nurrasyid
Penggagas Nalar Sasak

Referensi dan Bacaan Pendukung

  1. Jamaluddin. “Sejarah Tradisi Tulis Dalam Masyarakat Sasak Lombok.” Ulumuna, Vol. 9 No. 2. Kajian mengenai perkembangan tradisi tulis, keragaman bahasa dan aksara, serta khazanah manuskrip masyarakat Sasak. Baca sumber .
  2. Atisah. “Mengenal Pepaosan Tradisi Lisan Lombok: Teks, Konteks, dan Fungsi.” Sawerigading, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kajian mengenai pepaosan sebagai pembacaan takepan sekaligus media transmisi nilai dan pengetahuan dalam masyarakat. Baca sumber .
  3. Baiq Yuliatin Ihsani dan kolega. “Leksikon yang Digunakan dalam Ritual Pepaosan Takepan Masyarakat Suku Sasak: Sebuah Kajian Etnolinguistik.” Jurnal Ilmiah Telaah. Baca sumber .
  4. L. M. Samsu, Muhammad Saiful, dan Hariman Bahtiar. Penelitian mengenai peningkatan keterbacaan citra naskah lontar Takepan Sasak. Infotek: Jurnal Informatika dan Teknologi, 2020. Baca sumber .
  5. Husain dan Muhammad Tajuddin. “Digitalisasi Naskah Kuno Sasak untuk Menjaga, Melindungi dan Melestarikan Budaya Berbasis Web.” Baca sumber .
  6. Yudhi Setiawan. “Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Lontar (Takepan) Sasak di Indonesia.” Journal Kompilasi Hukum, Universitas Mataram, 2023. Baca sumber .
```
Bagikan tulisan ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Lombok Semakin Ramai, Apakah Masyarakatnya Benar-Benar Ikut Maju

Ketika Pariwisata Tumbuh, Siapa yang Benar-Benar Mendapat Manfaat?