Beranda / Artikel

Sebelum Lombok Dikenal Dunia: Membaca Kembali Jejak Panjang Peradaban Sasak

Menghitung waktu baca…

SEJARAH • GAGASAN

Oleh: Aldi Nurrasyid
Nalar Sasak

Ada sesuatu yang kadang luput ketika kita membicarakan masyarakat Sasak hari ini.

Kita mengenal Lombok melalui pantainya.

Melalui Gunung Rinjani.

Melalui Mandalika.

Melalui desa-desa adat, kain tenun, masjid-masjid tua, tradisi merariq, peresean, gendang beleq, dan berbagai bentuk kebudayaan yang masih hidup di tengah masyarakat.

Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan:

Seberapa jauh sebenarnya kita mengenal perjalanan masyarakat Sasak sebelum Lombok menjadi seperti yang kita lihat hari ini?

Sebab masyarakat Sasak tidak tiba-tiba muncul ketika Lombok menjadi destinasi wisata.

Identitas Sasak tidak lahir dari brosur pariwisata.

Budaya Sasak juga tidak dimulai ketika orang luar mulai tertarik memotretnya.

Jauh sebelum jalan-jalan modern dibangun, sebelum pesawat membawa jutaan orang menuju Lombok, bahkan jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, masyarakat di pulau ini telah melalui perjalanan sejarah yang panjang.

Mereka bertemu dengan berbagai kebudayaan. Berhubungan dengan daerah-daerah lain. Membangun pusat kekuasaan. Mengenal perdagangan. Mengembangkan tradisi tulis. Mengalami perubahan agama. Menghadapi perebutan kekuasaan. Melawan, beradaptasi, kemudian membentuk kembali identitasnya.

Dan mungkin dari perjalanan panjang itulah kita perlu membaca kembali siapa sebenarnya orang Sasak.

Nama Sasak Sudah Muncul Jauh Sebelum Zaman Kita

Jejak mengenai Lombok dan Sasak dapat ditemukan dalam sumber-sumber yang berusia ratusan tahun.

Kajian arkeologi Muhamad Satok Yusuf, misalnya, membahas sejumlah sumber lama yang berkaitan dengan Lombok. Prasasti Pujungan dari masa pemerintahan Anak Wungsu disebut memuat istilah yang dikaitkan dengan Sasak.

Dalam sumber Jawa abad ke-14, Nagarakretagama, sejumlah nama wilayah yang dikaitkan dengan Lombok juga muncul, antara lain Gurun, Sukun, Lombok Mirah, dan Saksak Adi.

Tentu saja sumber-sumber seperti ini harus dibaca dengan hati-hati.

Nama tempat dapat berubah. Penafsiran dapat berbeda. Hubungan antara suatu nama dalam teks lama dengan wilayah geografis sekarang juga tidak selalu sederhana.

Tetapi setidaknya satu hal menjadi jelas:

Lombok bukan ruang kosong yang baru masuk ke dalam sejarah beberapa abad terakhir.

Pulau ini telah menjadi bagian dari dinamika kepulauan Nusantara sejak masa yang jauh lebih tua.

Bahkan dari sisi bahasa, penelitian linguistik sejarah menemukan jejak warisan Austronesia yang panjang dalam bahasa Sasak.

Penelitian Burhanuddin, Boniesta Zulandha Melani, dan Saharudin menemukan banyak etimon Proto-Austronesia yang jejaknya masih dapat ditelusuri dalam bahasa Sasak.

Artinya, ketika kita menggunakan bahasa Sasak hari ini, sesungguhnya kita sedang membawa sesuatu yang jauh lebih tua daripada umur kita sendiri.

Ada perjalanan manusia di dalam setiap kata.

Ada perpindahan, pertemuan, perubahan bunyi, dan ingatan panjang yang tidak selalu kita sadari.

Masyarakat Sasak Dahulu Bukan Masyarakat yang Terisolasi

Ada kecenderungan melihat masyarakat tradisional masa lalu seolah-olah hidup sendiri dan terpisah dari dunia luar.

Tetapi sejarah Lombok menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks.

Masyarakat Sasak sejak lama berhubungan dengan kelompok-kelompok dari berbagai wilayah Nusantara.

Salah satu jejak terpentingnya dapat dilihat melalui tradisi tulis.

Penelitian Jamaluddin mengenai sejarah tradisi tulis masyarakat Sasak menemukan banyak manuskrip lama di Lombok dengan penggunaan bahasa dan aksara yang beragam.

Dalam tradisi manuskrip Lombok terdapat pengaruh Sasak, Jawa, Bali, Melayu, Arab, bahkan hubungan dengan tradisi tulis dari wilayah lain di Nusantara.

Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat Lombok telah lama berada dalam jaringan perjumpaan budaya dan intelektual.

Coba bayangkan kehidupan Lombok beberapa ratus tahun lalu.

Belum ada internet.

Belum ada pesawat.

Belum ada kapal cepat yang menghubungkan pulau-pulau dalam hitungan jam.

Tetapi gagasan dapat berpindah dari satu tempat menuju tempat lainnya.

Bahasa bertemu bahasa.

Cerita bertemu cerita.

Agama bertemu adat.

Naskah dibaca, disalin, kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Masyarakat Sasak ternyata tidak hanya memiliki tradisi lisan. Mereka juga memiliki sejarah intelektual yang tersimpan dalam manuskrip.

Ini penting.

Sebab sering kali ukuran kemajuan masyarakat masa lalu hanya dilihat dari bangunan-bangunan besar yang ditinggalkannya.

Padahal peradaban juga tersimpan dalam tulisan.

Dalam bahasa.

Dalam aturan adat.

Dalam pengetahuan mengenai tanah.

Dalam cerita.

Dalam cara suatu masyarakat memahami Tuhan, alam, keluarga, kematian, serta hubungannya dengan manusia lain.

Pernah Ada Pusat Kekuasaan dan Perdagangan

Sejarah Lombok juga berkaitan dengan munculnya berbagai pusat kekuasaan lokal.

Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Selaparang.

Penelitian Jamaluddin berdasarkan data arkeologis dan manuskrip Sasak menggambarkan Selaparang sekitar abad ke-16 sebagai salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan penting di Lombok.

Ini memberi kita gambaran bahwa Lombok pada masa lalu tidak hanya terdiri atas permukiman-permukiman yang berdiri sendiri.

Ada kekuasaan.

Ada hubungan politik.

Ada distribusi barang.

Ada perdagangan.

Ada komunikasi dengan wilayah lain.

Dan di tengah semua itu tumbuh masyarakat dengan tata sosial, tradisi, dan sistem nilainya sendiri.

Namun sejarah tidak berjalan lurus.

Kerajaan muncul.

Kerajaan melemah.

Kekuasaan berpindah.

Pusat ekonomi berubah.

Hubungan dengan dunia luar juga berubah.

Karena itu sejarah Sasak tidak tepat bila hanya diceritakan sebagai kisah tentang satu kerajaan, satu tokoh, atau satu masa kejayaan.

Sejarah Sasak adalah perjalanan yang jauh lebih panjang.

Ketika Islam Datang, Sasak Tidak Berhenti Menjadi Sasak

Salah satu perubahan terbesar dalam sejarah masyarakat Lombok adalah berkembangnya Islam.

Namun bahkan mengenai kapan dan melalui siapa Islam pertama kali berkembang di Lombok, sumber-sumber sejarah memberikan beberapa penjelasan.

Sejumlah kajian memperkirakan Islam telah diperkenalkan melalui jaringan pedagang Muslim, sementara berbagai sumber lokal lebih sering menghubungkan penyebaran Islam dalam skala besar dengan kedatangan Sunan Prapen dari Jawa sekitar abad ke-16.

Perbedaan semacam ini wajar dalam penelitian sejarah.

Yang jauh lebih menarik adalah apa yang terjadi setelahnya.

Islam tidak berkembang dalam ruang kosong.

Ia bertemu dengan adat, sistem sosial, kepercayaan, dan kebudayaan yang telah lebih dahulu tumbuh di Lombok.

Dari pertemuan itulah muncul berbagai ekspresi keberagamaan masyarakat Sasak.

Kajian mengenai kehidupan keagamaan Sasak menunjukkan proses panjang perjumpaan antara nilai agama, tradisi, serta konteks sosial masyarakat.

Demikian pula kajian mengenai Wetu Telu di Bayan memperlihatkan bahwa proses Islamisasi Lombok tidak dapat dibaca hanya sebagai cerita tentang sesuatu yang lama kemudian digantikan sepenuhnya oleh sesuatu yang baru.

Ada dialog.

Ada penyesuaian.

Ada perdebatan.

Dan ada perubahan yang berlangsung dalam waktu panjang.

Mungkin inilah salah satu kemampuan terbesar masyarakat Sasak sepanjang sejarah: menerima perubahan tanpa sepenuhnya kehilangan kemampuan untuk mengolah perubahan itu menjadi miliknya sendiri.

Sasak Juga Mengalami Masa Kekuasaan dari Luar

Tetapi sejarah bukan hanya cerita tentang pertumbuhan.

Ada pula masa-masa ketika masyarakat Sasak hidup di bawah perubahan dan tekanan kekuasaan.

Ekspansi kerajaan-kerajaan Bali, khususnya Karangasem, membawa perubahan politik yang besar di Lombok.

Hubungan Sasak dan Bali tentu tidak dapat disederhanakan hanya menjadi hubungan konflik.

Interaksi panjang juga menghasilkan pertukaran budaya, hubungan sosial, bahasa, seni, arsitektur, hingga bentuk-bentuk akulturasi yang masih dapat kita lihat sampai sekarang.

Namun dalam dimensi politik, kekuasaan juga melahirkan ketegangan dan perlawanan.

Sejumlah penelitian sejarah mencatat terjadinya perlawanan masyarakat Sasak terhadap kekuasaan Bali pada abad ke-18 dan ke-19.

Kemudian datang Belanda.

Pada tahun 1894, konflik di Lombok membuka jalan bagi intervensi militer Belanda.

Berakhirnya kekuasaan Bali ternyata tidak otomatis berarti masyarakat Sasak memperoleh kebebasan.

Lombok justru masuk lebih jauh ke dalam struktur kekuasaan kolonial Belanda.

Penelitian Alfons van der Kraan mengenai Lombok periode 1870–1940 menunjukkan bahwa pergantian penguasa tidak serta-merta memperbaiki kondisi masyarakat biasa.

Ia mencatat perubahan struktur penguasaan tanah, konsentrasi kepemilikan tanah, serta berkembangnya kelompok petani penggarap dan masyarakat tanpa tanah selama masa kolonial.

Sejarah semacam ini perlu kita ingat.

Bukan untuk mewariskan kemarahan.

Tetapi untuk memahami bahwa masyarakat Sasak hari ini berdiri di atas pengalaman sosial dan politik yang panjang.

Kita Adalah Keturunan Masyarakat yang Berulang Kali Menghadapi Perubahan

Bayangkan berapa banyak perubahan yang pernah dilewati masyarakat di pulau ini.

Perubahan kerajaan.

Perubahan pusat kekuasaan.

Perubahan agama.

Perdagangan.

Migrasi.

Peperangan.

Kolonialisme.

Kemerdekaan.

Modernisasi.

Pariwisata.

Teknologi.

Dan sekarang digitalisasi.

Namun masyarakat Sasak tetap ada.

Bahasanya masih digunakan.

Tradisinya masih hidup.

Nama-nama tempat masih diwariskan.

Cerita-cerita lama masih diceritakan.

Naskah-naskah masih tersimpan.

Masjid kuno masih berdiri.

Makam-makam lama masih dikunjungi.

Kebudayaan masih bergerak.

Tentu semuanya telah berubah.

Dan justru itulah kebudayaan.

Kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang membeku.

Ia berubah, tetapi tetap memiliki ingatan.

Sasak Bukan Identitas yang Sederhana

Penelitian mengenai konstruksi identitas masyarakat Sasak menunjukkan bahwa identitas Sasak dibangun melalui banyak unsur.

Ada bahasa.

Ada agama.

Ada adat.

Ada wilayah.

Ada sejarah.

Ada kesadaran mengenai kebersamaan sebagai suatu kelompok masyarakat.

Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mencoba menjawab pertanyaan:

Siapa orang Sasak yang sebenarnya?

Tidak ada satu jawaban sederhana.

Sasak tidak hanya soal garis keturunan.

Tidak hanya soal bahasa.

Tidak hanya soal pakaian adat.

Tidak hanya soal gelar.

Tidak hanya soal tempat kelahiran.

Identitas adalah hasil perjalanan panjang.

Ia dibentuk oleh sejarah.

Oleh ingatan.

Oleh agama.

Oleh bahasa.

Oleh lingkungan.

Oleh perjumpaan dengan orang lain.

Dan juga oleh bagaimana sebuah generasi memilih meneruskan semua itu kepada generasi berikutnya.

Masalah Kita Hari Ini Mungkin Bukan Kehilangan Sejarah

Barangkali kita sebenarnya tidak kekurangan sejarah.

Yang kita kekurangan adalah kebiasaan membacanya.

Banyak penelitian mengenai Lombok telah ditulis.

Manuskrip masih tersimpan.

Situs sejarah masih berdiri.

Tradisi lisan masih hidup di tengah masyarakat.

Para tetua masih menyimpan cerita.

Para akademisi telah melakukan penelitian.

Tetapi berapa banyak anak muda Sasak yang mengenalnya?

Kita bisa mengenal sejarah kerajaan Eropa.

Kita mengenal perang-perang besar dunia.

Kita mengenal tokoh dari tempat yang berjarak ribuan kilometer.

Semua itu penting.

Tetapi seberapa banyak kita mengetahui sejarah desa tempat kita dilahirkan?

Siapa yang membangun permukiman kita?

Mengapa sebuah dusun memiliki nama tertentu?

Dari mana tradisi di kampung kita berasal?

Mengapa dialek Sasak antara satu wilayah dan wilayah lain berbeda?

Apa cerita di balik makam tua yang setiap hari kita lewati?

Pertanyaan seperti ini terlihat sederhana.

Tetapi dari sanalah sejarah lokal mulai hidup.

Jangan Sampai Sasak Hanya Kita Kenal dari Pertunjukan Budaya

Ini barangkali salah satu tantangan terbesar kita hari ini.

Kebudayaan Sasak semakin sering ditampilkan.

Ada festival.

Ada pertunjukan.

Ada pakaian adat.

Ada desa wisata.

Ada konten media sosial.

Ada berbagai kegiatan budaya.

Semua itu baik.

Tetapi budaya tidak boleh berhenti pada tampilan.

Jangan sampai kita mengenakan pakaian Sasak tetapi tidak mengenal sejarah masyarakat Sasak.

Jangan sampai kita mampu mempertunjukkan tradisi tetapi tidak memahami nilai yang ada di baliknya.

Jangan sampai orang luar datang ke Lombok untuk mempelajari kebudayaan Sasak, sementara generasi Sasak sendiri perlahan kehilangan rasa ingin tahu terhadap sejarahnya.

Karena pelestarian bukan hanya menjaga benda.

Pelestarian juga berarti menjaga pengetahuan.

Masa Lalu Bukan Tempat untuk Kembali

Membicarakan sejarah bukan berarti kita ingin hidup kembali seperti ratusan tahun lalu.

Kita tidak mungkin kembali ke sana.

Dan kita tidak perlu.

Masa lalu bukan tempat untuk kembali. Masa lalu adalah tempat untuk belajar.

Kita membaca sejarah bukan agar menjadi masyarakat yang terjebak nostalgia.

Kita membacanya agar memahami mengapa kita menjadi seperti sekarang.

Dari sejarah kita belajar bahwa masyarakat Sasak sejak lama hidup dalam perjumpaan dengan dunia luar.

Karena itu keterbukaan bukan sesuatu yang asing.

Dari sejarah kita juga belajar bahwa perubahan yang datang dari luar tidak selalu membawa keuntungan bagi masyarakat lokal.

Karena itu kita perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menentukan arah perubahan kita sendiri.

Dari tradisi manuskrip kita mengetahui bahwa masyarakat Sasak memiliki sejarah intelektual.

Karena itu generasi sekarang tidak seharusnya puas hanya menjadi konsumen informasi.

Kita juga harus menulis.

Meneliti.

Mendokumentasikan.

Menerbitkan.

Dan mewariskan pengetahuan.

Pada Akhirnya, Kita Sedang Menulis Sejarah Sasak Berikutnya

Ada satu hal yang sering kita lupakan.

Sejarah bukan hanya sesuatu yang terjadi dahulu.

Apa yang kita lakukan hari ini suatu saat juga akan menjadi sejarah.

Cara kita memperlakukan bahasa Sasak hari ini akan menentukan apakah bahasa itu masih kuat seratus tahun mendatang.

Cara kita merawat situs sejarah hari ini akan menentukan apakah generasi berikutnya masih dapat melihatnya.

Cara kita mendokumentasikan tradisi hari ini akan menentukan apakah suatu saat orang hanya mengenalnya dari cerita.

Cara kita mendidik anak-anak hari ini akan menentukan bagaimana mereka memahami identitasnya kelak.

Dan cara kita membangun Lombok hari ini akan menentukan apakah masyarakat Sasak menjadi pelaku utama perubahan atau hanya menjadi penonton.

Karena itu mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan sekadar:

“Dari mana sebenarnya orang Sasak berasal?”

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:

“Setelah melalui sejarah yang begitu panjang, ke mana masyarakat Sasak ingin melangkah?”

Kita mewarisi sebuah masyarakat yang telah melewati berabad-abad perubahan.

Tugas generasi sekarang bukan sekadar merasa bangga terhadap warisan tersebut.

Tugas kita adalah memahaminya.

Mengkritisinya.

Mendokumentasikannya.

Menjaga yang masih bernilai.

Memperbaiki yang perlu diperbaiki.

Dan kemudian meneruskannya.

Sebab menjadi Sasak bukan hanya soal mengingat siapa leluhur kita.

Menjadi Sasak juga berarti memikirkan apa yang akan kita tinggalkan kepada mereka yang hidup setelah kita.


Aldi Nurrasyid
Penggagas Nalar Sasak

Referensi dan Bacaan Pendukung

  1. Jamaluddin. “Sejarah Tradisi Tulis Dalam Masyarakat Sasak Lombok.” Ulumuna, Vol. 9 No. 2. Baca sumber .
  2. Jamaluddin. “Islam Sasak: Sejarah Sosial Keagamaan di Lombok (Abad XVI–XIX).” Jurnal Indo-Islamika, Vol. 1 No. 1. Baca sumber .
  3. Jamaluddin. “Kerajaan Selaparang sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat Perdagangan pada Abad XVI Berdasarkan Data Arkeologis dan Manuskrip Sasak.” Manuskripta. Baca sumber .
  4. Muhamad Satok Yusuf. “A Spatial Archaeological Study of the Jirat and Muslim Nobles Cemetery in Lombok.” Al-A'raf, Vol. 21 No. 1. Baca sumber .
  5. Burhanuddin, Boniesta Zulandha Melani, dan Saharudin. “Austronesian’s Traces in Sasak: Historical Linguistics Study.” Jurnal Arbitrer. Baca sumber .
  6. Alfons van der Kraan. Selaparang under Balinese and Dutch Rule: A History of Lombok 1870–1940. Australian National University. Baca sumber .
  7. A.A. Ngr. Anom Kumbara. “Konstruksi Identitas Orang Sasak di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.” Humaniora, Vol. 20 No. 3. Baca sumber .
  8. Dedy Wahyudin. “Identitas Orang Sasak: Studi Epistemologis terhadap Mekanisme Produksi Pengetahuan Masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok NTB.” El-Tsaqafah. Baca sumber .
  9. Ahmad Amir Aziz. “Islam Sasak: Pola Keberagamaan Komunitas Islam Lokal di Lombok.” Millah: Journal of Religious Studies. Baca sumber .
Bagikan tulisan ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Lombok Semakin Ramai, Apakah Masyarakatnya Benar-Benar Ikut Maju

Ketika Pariwisata Tumbuh, Siapa yang Benar-Benar Mendapat Manfaat?

Ketika Orang Sasak Menulis Dunia Mereka: Takepan, Pepaosan, dan Ingatan yang Hampir Kita Tinggalkan