Tentang cerita lama mengenai sebuah ilmu yang konon membuat parang dapat mengikuti kehendak pemiliknya.
Narasumber: Akmaludin, petani
“Dulu, katanya, ada orang yang bisa menyuruh parangnya.”
“Parang itu bisa bergerak sendiri, mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang yang punya ilmu.”
Inti penuturan Akmaludin mengenai cerita Batek Unting yang ia dengar dari orang-orang tua dahulu.
Catatan Nalar Sasak: Kisah dalam tulisan ini merupakan pengembangan naratif dari penuturan Akmaludin, seorang petani yang mengatakan bahwa ia mengetahui cerita Batek Unting dari orang-orang tua dahulu. Akmaludin bukan saksi langsung praktik tersebut. Oleh karena itu, kemampuan parang bergerak atau terbang dalam tulisan ini disajikan sebagai bagian dari cerita lisan dan kepercayaan yang pernah berkembang, bukan sebagai fakta supranatural yang telah dibuktikan.
Cerita yang Tidak Pernah Ditulis
Ada banyak cerita yang hidup di tengah masyarakat tetapi tidak pernah masuk ke dalam buku. Cerita-cerita tersebut tidak memiliki tanggal, tidak memiliki halaman arsip, dan terkadang tidak diketahui siapa orang pertama yang mengucapkannya.
Namun cerita itu tetap hidup.
Ia berpindah dari mulut seorang tua kepada anaknya, dari seorang tetangga kepada tetangganya, dari satu generasi menuju generasi berikutnya. Kadang ceritanya berubah sedikit. Kadang ada bagian yang hilang. Kadang justru muncul tambahan baru.
Begitulah tradisi lisan bekerja.
Salah satu cerita yang masih tersimpan dalam ingatan Akmaludin adalah cerita tentang Batek Unting.
Akmaludin adalah seorang petani. Ia tidak mengaku pernah menguasai ilmu tersebut. Ia juga tidak mengatakan pernah melihat langsung sebuah parang bergerak tanpa disentuh manusia.
Ia hanya menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari orang-orang yang lebih tua pada zamannya.
Dan justru karena itulah kisah ini menarik untuk ditulis.
Ketika Parang Menjadi Lebih dari Sekadar Alat
Dalam kehidupan masyarakat agraris, parang bukanlah benda asing. Ia merupakan alat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Petani membawanya ke kebun. Parang digunakan untuk memotong rumput, membersihkan semak, memotong ranting, membuka jalan kecil, dan membantu berbagai pekerjaan yang membutuhkan tenaga.
Karena kedekatan tersebut, tidak mengherankan jika parang juga muncul dalam berbagai cerita masyarakat.
Tetapi dalam cerita Batek Unting, posisi parang menjadi berbeda.
Parang tidak lagi hanya berada di tangan manusia.
Konon, ia dapat diperintah.
Menurut cerita yang sampai kepada Akmaludin, Batek Unting merupakan sebuah ilmu yang dipercaya dapat membuat seseorang memiliki kemampuan untuk mengendalikan parangnya.
Bukan sekadar mengayunkan parang dengan tangan, tetapi memerintahkannya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak pemilik ilmu tersebut.
Parang yang Konon Bisa Terbang
Bagian paling tidak biasa dari cerita tersebut adalah gambaran tentang parang yang dapat bergerak tanpa terus berada dalam genggaman.
Dalam cerita yang didengar Akmaludin, orang yang memiliki Batek Unting dipercaya mampu menyuruh parangnya bergerak sesuai keinginannya.
Parang itu, menurut cerita, dapat diarahkan ke suatu tempat. Kemudian bergerak atau bahkan digambarkan terbang menuju tempat yang diperintahkan.
“Kalau orang yang punya ilmu itu menyuruh parangnya, katanya parang tersebut menurut. Bisa pergi sendiri sesuai dengan perintah.”
Dialog merupakan rekonstruksi editorial berdasarkan inti penuturan Akmaludin, bukan transkrip wawancara verbatim.
Bagi masyarakat modern, gambaran seperti itu tentu sulit diterima sebagai sesuatu yang nyata.
Tetapi cerita rakyat tidak selalu bekerja dengan logika pembuktian ilmiah. Ia hidup dalam ruang kepercayaan, pengalaman sosial, simbol, ketakutan, dan imajinasi masyarakat.
Karena itu, pertanyaan yang menarik bukan hanya: “Apakah parang itu benar-benar bisa terbang?”
Pertanyaan yang lebih menarik adalah: “Mengapa orang-orang dahulu menceritakan bahwa parang itu bisa terbang?”
Untuk Pekerjaan di Kebun
Cerita tentang Batek Unting tidak selalu digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Pada bagian tertentu, ilmu tersebut justru dikaitkan dengan pekerjaan sehari-hari.
Menurut penuturan Akmaludin, orang yang dipercaya memiliki kemampuan tersebut dapat menyuruh parangnya membantu pekerjaan di kebun.
Kebun yang penuh semak dapat dibersihkan. Ranting-ranting dapat dipotong. Tanaman liar dapat ditebas. Pekerjaan yang biasanya membutuhkan tenaga manusia digambarkan dapat dilakukan dengan bantuan parang yang bergerak atas perintah.
Jika dibayangkan dalam konteks kehidupan petani dahulu, cerita tersebut sebenarnya memiliki gambaran yang sangat kuat.
Seorang petani berdiri di sebuah kebun. Di hadapannya terdapat semak dan pepohonan. Ia tidak perlu mengayunkan parang berkali-kali. Dalam cerita, cukup dengan memberikan perintah, parang tersebut bergerak menjalankan pekerjaannya.
Parang yang biasanya menjadi alat bagi manusia, dalam cerita Batek Unting seolah-olah menjadi “tangan kedua” bagi pemiliknya.
Tetapi Ilmu Itu Memiliki Sisi Gelap
Cerita kemudian berubah ketika kemampuan tersebut tidak lagi digunakan untuk pekerjaan.
Akmaludin mengatakan bahwa dari cerita orang-orang tua yang ia dengar, Batek Unting juga dikaitkan dengan kemampuan untuk mencelakai orang lain.
Dalam cerita tertentu, parang yang dipercaya dapat dikendalikan tersebut bahkan dapat digunakan untuk menyerang seseorang.
Di sinilah kisah yang semula terdengar seperti cerita tentang kemampuan membantu pekerjaan berubah menjadi cerita yang menimbulkan ketakutan.
Sebab sebuah benda yang dipercaya dapat bergerak atas kehendak seseorang juga dapat menjadi simbol kekuasaan.
Orang yang memiliki kemampuan tersebut mungkin akan dianggap memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang biasa.
Ia bisa dihormati. Ia bisa ditakuti. Bahkan bisa saja dijauhi.
Ketika sebuah parang dipercaya dapat bergerak tanpa disentuh, yang ditakuti masyarakat bukan lagi parangnya.
Yang ditakuti adalah orang yang dipercaya mampu mengendalikannya.
Cerita Tentang Membunuh
Bagian ini merupakan bagian paling gelap dari cerita Batek Unting.
Dalam penuturan yang sampai kepada Akmaludin, kemampuan tersebut tidak hanya dipercaya dapat digunakan untuk pekerjaan seperti membersihkan kebun.
Ada pula cerita bahwa ilmu tersebut dapat digunakan untuk menyerang atau membunuh seseorang.
Tidak ada cara bagi kita hari ini untuk memastikan apakah cerita tersebut benar-benar pernah terjadi.
Akmaludin sendiri tidak menyatakan pernah melihat peristiwa tersebut. Ia hanya mengulang cerita yang ia dengar dari orang-orang tua dahulu.
Karena itu, bagian tersebut harus ditempatkan secara hati-hati: sebagai bagian dari cerita lisan yang menggambarkan bagaimana masyarakat dahulu membayangkan kekuatan seseorang yang dianggap memiliki ilmu tertentu.
Dalam konteks cerita rakyat, kemampuan membunuh dari jarak tertentu juga dapat berfungsi sebagai peringatan.
Ia menggambarkan bahwa kekuatan yang besar, apabila digunakan untuk tujuan buruk, dapat berubah menjadi sesuatu yang berbahaya.
“Saya Hanya Mendengar Ceritanya”
Ada satu hal yang menurut saya sebagai penulis justru menjadi bagian terpenting dari penuturan Akmaludin.
Ia tidak mengatakan: “Saya pernah melihatnya.”
Ia mengatakan bahwa cerita tersebut ia dengar dari orang-orang tua dahulu.
“Saya cuma mendengar cerita itu dari orang tua-tua dulu. Katanya ada orang yang mengamalkan Batek Unting. Kalau saya sendiri, tidak pernah melihat langsung.”
Penggalan dialog di atas merupakan rekonstruksi naratif dari keterangan Akmaludin, bukan kutipan langsung hasil rekaman wawancara.
Kalimat tersebut membuat posisi cerita menjadi jelas.
Akmaludin bukan saksi pertama. Ia adalah penerima cerita.
Kemudian ia menjadi penutur berikutnya.
Dan sekarang, melalui tulisan ini, cerita tersebut kembali berpindah kepada pembaca.
Begitulah Cerita Lisan Bekerja
Cerita lisan memiliki sifat yang berbeda dengan sejarah tertulis.
Sejarah tertulis biasanya berusaha mencatat waktu, tempat, tokoh, dan peristiwa berdasarkan dokumen atau sumber yang dapat ditelusuri.
Cerita lisan sering berjalan dengan cara berbeda.
Ia menyimpan ingatan manusia.
Seseorang mungkin tidak mengingat tahun terjadinya suatu peristiwa, tetapi ia mengingat pesan yang ada di dalam ceritanya.
Ia mungkin tidak tahu siapa orang pertama yang memiliki cerita tersebut, tetapi ia mengingat bahwa orang tuanya pernah menceritakannya.
Begitulah sebuah cerita dapat bertahan selama puluhan tahun.
Batek Unting dalam Ingatan Masyarakat
Jika kita melihat Batek Unting hanya sebagai cerita tentang parang terbang, kita mungkin akan kehilangan bagian yang lebih menarik.
Cerita ini memperlihatkan bagaimana sebuah alat kerja yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dapat memperoleh makna baru dalam dunia kepercayaan.
Parang adalah alat. Tetapi dalam cerita, ia menjadi sesuatu yang lebih.
Ia menjadi simbol kemampuan.
Ia menjadi simbol kekuasaan.
Dan ketika digunakan untuk mencelakai, ia menjadi simbol ketakutan.
Dari sini kita dapat melihat bahwa sebuah cerita tradisional sering kali tidak hanya berbicara mengenai sesuatu yang gaib. Ia juga berbicara mengenai manusia.
Mengapa Cerita Seperti Ini Perlu Dicatat?
Mungkin ada yang bertanya: mengapa harus menulis cerita yang belum tentu dapat dibuktikan?
Jawabannya sederhana.
Karena cerita yang tidak dicatat dapat hilang.
Orang yang mengetahui cerita akan semakin sedikit.
Kemudian generasi berikutnya hanya mengetahui namanya, tanpa mengetahui bagaimana cerita tersebut pernah hidup.
Pada akhirnya, kita mungkin masih memiliki kata Batek Unting, tetapi tidak lagi mengetahui apa yang dimaksud oleh generasi sebelumnya.
Itulah sebabnya dokumentasi cerita lisan memiliki nilai.
Bukan untuk mengatakan bahwa semua cerita harus dipercaya.
Tetapi untuk menyimpan jejak tentang bagaimana masyarakat pernah memahami dunia mereka.
Antara Kepercayaan dan Kebenaran
Di zaman sekarang, kita memiliki kewajiban untuk membedakan antara cerita dan fakta.
Cerita tentang Batek Unting boleh dicatat. Cerita tersebut boleh diceritakan kembali. Bahkan boleh dikaji dari sisi budaya dan antropologi.
Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa kemampuan parang terbang telah terbukti hanya karena ada cerita mengenai hal tersebut.
Di sinilah pentingnya sikap kritis.
Kita menghargai cerita tanpa harus kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan kebenarannya.
Menghormati warisan budaya tidak berarti harus mempercayai semua isinya secara harfiah.
Melihat Sasak dari Sisi yang Jarang Dibicarakan
Selama ini, ketika orang berbicara tentang Sasak, yang muncul sering kali adalah gambaran tentang tradisi, kesenian, pakaian adat, rumah tradisional, makanan, bahasa, dan berbagai ritual masyarakat.
Semua itu penting.
Namun ada sisi lain yang tidak kalah menarik: cerita-cerita kecil yang hidup dalam ingatan masyarakat.
Cerita tentang orang yang dianggap memiliki kemampuan tertentu.
Cerita tentang benda yang memiliki kekuatan.
Cerita tentang pantangan.
Cerita tentang keberanian dan ketakutan.
Cerita yang mungkin tidak pernah masuk ke buku, tetapi pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Batek Unting berada di wilayah tersebut.
Mungkin kita tidak sedang mencari bukti bahwa sebuah parang pernah terbang.
Kita sedang mencari tahu mengapa orang-orang dahulu pernah menceritakan bahwa parang itu bisa terbang.
Di situlah cerita berubah menjadi pintu untuk memahami manusia.
Cerita yang Masih Membutuhkan Penelusuran
Cerita Akmaludin tentu belum cukup untuk menjawab seluruh pertanyaan tentang Batek Unting.
Justru dari cerita tersebut muncul pertanyaan-pertanyaan baru.
Dari wilayah mana sebenarnya cerita itu berasal?
Apakah istilah Batek Unting dikenal dengan nama yang sama di wilayah Sasak lainnya?
Apakah ada orang tua lain yang memiliki versi cerita berbeda?
Bagaimana seseorang dalam cerita tersebut memperoleh ilmunya?
Apakah ada aturan atau pantangan tertentu?
Apakah ilmu tersebut hanya dikaitkan dengan pekerjaan di kebun, atau terdapat fungsi lain dalam cerita masyarakat?
Dan yang paling menarik:
Apakah Batek Unting merupakan satu cerita, atau sebenarnya terdapat beberapa versi yang berkembang di tempat dan masa yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum selesai.
Dan mungkin memang tidak harus segera selesai.
Sebab penelusuran kebudayaan bukan pekerjaan sehari. Ia membutuhkan cerita, penutur, perbandingan sumber, dan keberanian untuk mengatakan: “kita belum tahu.”
Dari Akmaludin kepada Generasi Berikutnya
Pada akhirnya, yang paling berharga dari cerita Akmaludin mungkin bukan kemampuan mistis dalam kisah tersebut.
Yang berharga adalah kenyataan bahwa ia masih mengingatnya.
Sebuah cerita yang pernah ia dengar dari orang-orang tua masih memiliki tempat dalam ingatannya.
Dan ketika ia menceritakannya kembali, ia sebenarnya sedang meneruskan satu mata rantai tradisi lisan.
Dari orang tua kepada Akmaludin.
Dari Akmaludin kepada penulis.
Dari tulisan ini kepada pembaca.
Begitulah sebuah cerita dapat melakukan perjalanan melintasi waktu.
Catatan Penulis
Tulisan ini disusun oleh Aldi Nurrasyid berdasarkan penuturan Akmaludin, seorang petani, mengenai cerita Batek Unting yang ia dengar dari orang-orang tua dahulu.
Dalam cerita tersebut, Batek Unting digambarkan sebagai sebuah ilmu yang konon memungkinkan seseorang menyuruh atau mengendalikan parang sesuai kehendaknya. Dalam penuturan yang diterima Akmaludin, kemampuan tersebut dikaitkan dengan pekerjaan seperti membersihkan kebun dan dalam cerita tertentu juga dikaitkan dengan tindakan mencelakai atau membunuh seseorang.
Namun Akmaludin bukan saksi langsung terhadap praktik tersebut. Ia hanya meneruskan cerita yang pernah ia dengar dari generasi sebelumnya.
Karena itu, artikel ini tidak menempatkan Batek Unting sebagai fakta supranatural yang telah terbukti, melainkan sebagai cerita lisan yang layak didokumentasikan dan ditelusuri lebih lanjut.
Jika kelak ditemukan penutur lain, dokumen lama, catatan budaya, atau versi cerita dari wilayah Sasak yang berbeda, kisah ini dapat dikembangkan kembali dan dibandingkan dengan sumber-sumber tersebut.
Sebab tugas kita bukan sekadar mempercayai cerita lama, tetapi memastikan agar cerita itu tidak hilang sebelum kita sempat memahami mengapa ia pernah diceritakan.

Esai yang menarik, Bung Aldi. Namun, sebagai seorang akademisi (M.Pd.), Anda seharusnya tidak berhenti pada romantisasi tradisi lisan sebagai 'kekayaan imajinasi' semata. Di era disrupsi informasi, narasi supranatural seperti Batek Unting ini perlu dibedah menggunakan pendekatan sosiologi kemasyarakatan: Apakah mitos parang bergerak sendiri ini dahulu sengaja diciptakan sebagai instrumen psikologis atau psywar lokal untuk menakuti penjajah/musuh luar? Jika tulisan hanya sekadar merangkum cerita lisan tanpa analisis fungsi strukturalnya di masa lalu, platform ini berisiko terjebak menjadi wadah mistifikasi, bukan demistifikasi sejarah Gumi Sasak.
BalasHapusTerima kasih, Bung Petrus. Kritiknya saya terima sebagai masukan penting.
HapusTulisan tersebut memang saya posisikan sebagai langkah awal untuk mendokumentasikan tradisi lisan Batek Unting, bukan sebagai pembuktian bahwa parang benar-benar dapat bergerak sendiri. Saya sepakat bahwa pembahasan berikutnya perlu dikembangkan dengan melihat fungsi sosial, psikologis, dan historis dari cerita tersebut.
Adapun dugaan bahwa Batek Unting dahulu merupakan bentuk psywar tentu menarik untuk dikaji, tetapi menurut saya masih perlu dibuktikan melalui sumber sejarah, wawancara yang lebih luas, dan kajian antropologis.
Justru ruang seperti inilah yang ingin dibuka Nalar Sasak: mendokumentasikan cerita yang hidup di masyarakat, kemudian mengkajinya secara kritis tanpa tergesa-gesa menganggapnya sebagai fakta maupun sekadar mitos.
Terima kasih sudah membuka ruang diskusi.