SOSIAL • KEBUDAYAAN • GAGASAN
Oleh: Aldi Nurrasyid
Penggagas Nalar Sasak
Ada sesuatu yang mengharukan setelah api mengubah wajah Desa Adat Sade pada malam 22 Agustus 2026.
Bantuan datang.
Dari pemerintah.
Dari lembaga negara.
Dari BUMN.
Dari BAZNAS.
Dari kepolisian.
Dari organisasi masyarakat.
Dari perusahaan.
Dari komunitas.
Dan tentu dari masyarakat yang mungkin namanya tidak pernah masuk ke dalam pemberitaan.
Ada yang membawa makanan.
Ada yang membawa air bersih.
Ada yang membawa pakaian.
Ada yang menyediakan kebutuhan tidur.
Ada yang membawa semen.
Ada yang memberikan uang.
Ada pula yang datang membawa pelayanan kesehatan dan pendampingan bagi masyarakat yang mengalami trauma.
Semua itu patut dihargai.
Sebab ketika sebuah masyarakat sedang menghadapi bencana, solidaritas bukan hanya tentang nilai bantuan.
Solidaritas juga merupakan cara mengatakan:
Kalian tidak menghadapi ini sendirian.
Tetapi justru ketika bantuan mulai mengalir dari banyak arah, kita memasuki persoalan yang berbeda.
Berapa sebenarnya bantuan yang telah masuk ke Sade? / Siapa yang mencatat seluruh bantuan tersebut? / Siapa yang memastikan satu keluarga tidak menerima berulang kali sementara keluarga lain justru terlewat? / Dan setelah masa tanggap darurat selesai, siapa yang memastikan solidaritas besar ini benar-benar berubah menjadi pemulihan yang adil?
Pertanyaan seperti ini bukan bentuk kecurigaan.
Justru pertanyaan seperti inilah yang diperlukan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Api Padam, tetapi Dampaknya Tidak Ikut Padam
Kebakaran yang melanda kawasan Desa Adat Sade bukan kebakaran biasa.
Berdasarkan laporan awal Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, sekitar 120 kepala keluarga atau kurang lebih 320 jiwa tercatat terdampak.
Tetapi ketika pembicaraan diarahkan kepada kerusakan bangunan dan aset budaya, angkanya menjadi lebih kompleks.
Pendataan awal sektor kebudayaan yang dilakukan Dinas Kebudayaan Provinsi NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB mencatat antara lain 75 rumah tradisional atau rumah adat, satu masjid, empat berugak sekenam besar, enam berugak sekepat, delapan lumbung alang, 69 artshop, satu Bale Beleq, fasilitas wisata, gerbang kawasan, serta sejumlah objek lainnya terdampak.
Data tersebut masih harus diverifikasi.
Ini penting untuk dipahami.
Sebab dalam beberapa hari pertama setelah bencana, publik dapat menemukan angka yang berbeda-beda mengenai jumlah bangunan yang terbakar.
Ada sumber yang berbicara mengenai rumah.
Ada yang menghitung seluruh bangunan.
Ada pula yang menghitung objek berdasarkan kategori aset.
Perbedaan ini tidak otomatis berarti seseorang memberikan informasi yang salah.
Tetapi ia memperlihatkan satu kebutuhan yang sangat penting:
Sade membutuhkan satu data pemulihan yang terus diperbarui dan dapat menjadi rujukan bersama.
Sebab bantuan yang tepat hanya mungkin diberikan apabila kebutuhan yang menjadi dasarnya juga tepat.
Bantuan dari Pemerintah Pusat Mulai Disalurkan
Salah satu respons datang dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Berdasarkan keterangan yang diberitakan ANTARA dari Kementerian Sosial, pemerintah menyalurkan kebutuhan dasar berupa 320 paket sembako, 180 paket family kit, 184 lembar kasur, 233 lembar tenda gulung, serta dua unit tenda serbaguna.
Bantuan jenis ini memiliki fungsi yang sangat penting pada fase awal.
Sebab setelah rumah terbakar, kebutuhan manusia sebenarnya kembali kepada hal-hal yang paling sederhana.
Tempat tidur.
Makanan.
Air.
Pakaian.
Tempat berlindung.
Kesehatan.
Dan rasa aman.
Kementerian Sosial juga menunggu asesmen dari Dinas Sosial setempat sebagai dasar usulan penanganan rumah warga.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kemudian menyampaikan bahwa koordinasi dengan Kemensos terus dilakukan terkait pembangunan kembali rumah adat yang terdampak.
Namun pemerintah daerah juga menegaskan bahwa data rumah masih harus divalidasi.
Karena membangun kembali tidak dapat dimulai hanya dari niat baik. / Harus ada data yang benar. / Harus diketahui siapa yang terdampak. / Harus diketahui apa yang rusak. / Dan harus jelas apa yang menjadi prioritas.
Ada Bantuan Rp200 Juta dan 100 Paket Sembako dari Pimpinan DPR RI
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati.
Berdasarkan informasi resmi Parlementaria DPR RI, dalam kunjungannya ke Desa Adat Sade pada 23 Agustus 2026, Sari menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp200 juta dan 100 paket sembako kepada masyarakat terdampak.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan komitmen untuk mendorong revitalisasi kawasan.
Bantuan uang dalam jumlah besar tentu penting.
Tetapi bantuan dalam bentuk uang juga menghadirkan kebutuhan lain: mekanisme penyaluran yang jelas.
Bukan karena kita harus mencurigai orang yang mengelolanya.
Justru karena keterbukaan akan melindungi semua pihak.
Pemberi bantuan terlindungi karena dapat mengetahui bantuan digunakan sesuai tujuan.
Pengelola terlindungi karena memiliki pencatatan yang jelas.
Dan masyarakat terlindungi karena dapat mengetahui hak serta proses distribusinya.
BUMN Juga Bergerak
Dukungan terhadap Sade tidak berhenti pada pemerintah dan lembaga politik.
Ekosistem BUMN juga mulai menyalurkan bantuan.
BTN, dengan dukungan Danantara Indonesia, menyampaikan bantuan kebutuhan dasar bagi sekitar 320 warga terdampak.
Bantuan tersebut meliputi berbagai kebutuhan seperti perlengkapan tidur, air minum, bahan pangan, perlengkapan ibadah, serta kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Provinsi NTB juga mencatat bantuan dari PLN melalui Yayasan Baitul Mal PLN Unit Induk Wilayah NTB berupa paket sembako dan dana bantuan yang diserahkan melalui Posko Tanggap Bencana BUMN Peduli.
Hal yang menarik dari pola ini adalah mulai munculnya koordinasi bantuan melalui posko.
Ini harus diperkuat.
Sebab semakin banyak lembaga yang datang, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan bantuan tidak berjalan sendiri-sendiri.
BAZNAS Hadir Sejak Kebutuhan Darurat hingga Bantuan Lanjutan
BAZNAS Kabupaten Lombok Tengah melalui BAZNAS Tanggap Bencana juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat.
Pada tahap awal, perhatian diarahkan kepada kebutuhan mendesak seperti air minum dan makanan siap saji.
Pada penyaluran berikutnya, bantuan diperluas kepada pakaian layak pakai dan perlengkapan ibadah seperti mukena.
Pola seperti ini memperlihatkan bahwa kebutuhan korban bencana memang berubah dari waktu ke waktu.
Hari pertama mungkin membutuhkan makanan.
Beberapa hari berikutnya kebutuhan mulai berubah.
Kemudian pada minggu berikutnya persoalan dapat bergeser menjadi tempat tinggal, sekolah anak, pekerjaan, kesehatan, dokumen, alat usaha, hingga pemulihan psikologis.
Karena itu pertanyaannya bukan hanya “berapa banyak bantuan yang sudah datang?” / Pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah jenis bantuan yang datang masih sesuai dengan kebutuhan masyarakat hari ini?”
Bantuan Tidak Semuanya Berbentuk Uang dan Sembako
Ada hal lain yang kadang luput ketika kita menggunakan kata bantuan.
Bantuan bukan hanya uang.
Bukan hanya beras.
Bukan hanya mi instan.
Kepolisian melalui layanan kesehatan membuka dukungan medis bagi masyarakat.
Pemerintah Provinsi NTB melalui RSUD Provinsi NTB menerjunkan tenaga medis, dokter, perawat kedaruratan, ambulans, dan obat-obatan.
Rumah Sakit Mutiara Sukma juga melakukan asesmen serta pendampingan untuk melihat kondisi psikologis masyarakat pascabencana.
Dinas Kesehatan Lombok Tengah mendirikan posko kesehatan serta melakukan pelayanan kepada kelompok terdampak dan kelompok rentan.
Ini mengingatkan kita bahwa manusia yang kehilangan rumah tidak hanya membutuhkan rumah baru.
Mereka juga membutuhkan kesehatan.
Ketenangan.
Kepastian.
Serta ruang untuk kembali menjalani kehidupan secara normal.
Tetapi Ada Sesuatu yang Tidak Bisa Diganti dengan Sembako
Di sinilah kebakaran Sade berbeda dengan banyak kebakaran permukiman lainnya.
Yang terbakar bukan hanya rumah.
Berdasarkan pendataan Dinas Kebudayaan NTB, api juga berdampak terhadap benda-benda budaya.
Peralatan kesenian.
Perlengkapan begawi.
Keris.
Tombak.
Kelewang.
Peralatan tenun.
Hasil tenun lama.
Bahkan naskah lontar yang menjadi bagian dari pengetahuan dan ingatan masyarakat.
Di sinilah bantuan menemui batasnya.
Uang dapat membeli bambu baru.
Uang dapat membeli kayu.
Uang dapat membeli alang-alang.
Tetapi tidak semua benda budaya yang hilang dapat dibeli kembali.
Tidak semua pusaka dapat diganti.
Tidak semua naskah dapat dibuat ulang.
Tidak semua ingatan dapat direkonstruksi.
Karena itu pemulihan Sade tidak boleh dihitung hanya dari berapa rupiah bantuan yang masuk. / Ada nilai budaya yang tidak memiliki harga pasar. / Ada ingatan yang tidak dapat dibangun kembali dengan semen.
Jangan Sampai Sade Dibangun Kembali, tetapi Sade-nya Hilang
Pemerintah Provinsi NTB sendiri telah memberikan satu pesan yang penting.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pembangunan kembali Sade tidak boleh hanya mengejar bangunan fisik.
Sejarahnya harus dijaga.
Arsitekturnya harus dijaga.
Tata ruangnya harus dipahami.
Dan kehidupan masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut sebagai kampung adat tidak boleh dikesampingkan.
Pesannya sederhana:
Jangan sampai Sade kehilangan Sade-nya.
Kalimat ini seharusnya menjadi salah satu prinsip utama pemulihan.
Karena ada risiko ketika sebuah kawasan adat dibangun kembali dengan pendekatan proyek biasa.
Bangunannya mungkin terlihat baru.
Jalannya mungkin lebih rapi.
Fasilitasnya mungkin lebih modern.
Tetapi apabila tata ruang, teknik tradisional, fungsi sosial, nilai adat, serta masyarakat yang hidup di dalamnya tidak menjadi dasar keputusan, kita mungkin menghasilkan tempat wisata yang menyerupai Sade—
tetapi bukan lagi Sade yang hidup.
Siapa yang Menentukan Bentuk Sade yang Baru?
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menyatakan tokoh masyarakat Sade akan dilibatkan melalui forum diskusi untuk menentukan bentuk dan jenis rumah yang akan dibangun kembali.
Ini merupakan langkah yang penting.
Tetapi partisipasi masyarakat sebaiknya tidak berhenti pada memilih bentuk rumah.
Warga perlu berada di dalam proses pengambilan keputusan.
Sebab merekalah yang akan tinggal di sana.
Mereka yang memahami fungsi ruang.
Mereka yang memahami hubungan rumah dengan keluarga.
Mereka yang mengetahui bagaimana adat bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah rumah akan dibangun persis seperti sebelumnya? / Material apa yang akan digunakan? / Bagaimana standar keselamatan kebakaran diterapkan tanpa menghilangkan bentuk tradisional? / Siapa tukang dan ahli yang akan dilibatkan? / Dan sejauh mana warga Sade memiliki suara dalam setiap keputusan?
Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar kapan proyek dimulai.
Keterbukaan Bantuan Juga Penting untuk Menjaga Kepercayaan
Ketika bantuan berasal dari banyak pintu, koordinasi menjadi kebutuhan.
Ada bantuan pemerintah.
Ada bantuan lembaga.
Ada bantuan perusahaan.
Ada bantuan komunitas.
Ada bantuan masyarakat.
Bentuknya juga berbeda.
Ada uang tunai.
Barang.
Material bangunan.
Pelayanan kesehatan.
Hingga kemungkinan bantuan rekonstruksi.
Karena itu, tidak berlebihan bila kemudian masyarakat membutuhkan sebuah sistem informasi bantuan yang sederhana dan terbuka.
Tidak harus rumit.
Misalnya melalui posko terpadu dapat dicatat:
- siapa pemberi bantuan;
- tanggal bantuan diterima;
- jenis dan jumlah bantuan;
- kepada siapa atau untuk kebutuhan apa bantuan diperuntukkan;
- jumlah yang telah disalurkan;
- jumlah yang masih tersimpan;
- serta kebutuhan apa yang masih belum terpenuhi.
Keterbukaan seperti ini bukan tindakan yang berlebihan.
Justru ketika solidaritas publik begitu besar, pencatatan yang baik adalah bentuk penghormatan kepada solidaritas itu sendiri.
Berapa total bantuan yang telah diterima? / Berapa yang berbentuk uang dan berapa yang berbentuk barang? / Apa yang sudah disalurkan? / Apa yang masih dibutuhkan? / Dan dapatkah masyarakat mengetahui perkembangannya secara terbuka?
Data yang Berbeda-beda Harus Segera Bertemu pada Satu Pintu
Hari-hari pertama pascabencana hampir selalu menghadirkan data yang bergerak.
Itu wajar.
Petugas masih melakukan asesmen.
Pemerintah masih memverifikasi.
Objek yang dihitung juga dapat berbeda.
Karena itu masyarakat tidak perlu terburu-buru memperdebatkan angka mana yang paling benar sebelum asesmen selesai.
Yang lebih penting adalah memastikan pada akhirnya tersedia satu basis data yang dapat digunakan oleh pemerintah, donor, lembaga sosial, dan masyarakat.
Sebab tanpa satu data, ada risiko sederhana.
Bantuan menumpuk pada kebutuhan tertentu.
Tetapi kebutuhan lain terlupakan.
Semua orang membawa beras.
Tetapi tidak ada yang memperhatikan alat sekolah.
Banyak yang membawa pakaian.
Tetapi pelaku usaha kehilangan modal.
Rumah dibangun.
Tetapi peralatan tenun tidak kembali.
Kawasan diperbaiki.
Tetapi mitigasi kebakarannya tidak berubah.
Pemulihan Ekonomi Jangan Terlupakan
Dalam data awal terdapat puluhan artshop yang terdampak.
Ini berarti kebakaran juga menyentuh sumber penghidupan.
Sade selama ini bukan hanya tempat tinggal.
Ia adalah ruang ekonomi.
Warga menjual tenun.
Menjual kerajinan.
Menerima wisatawan.
Menjadi pemandu.
Dan menggantungkan sebagian pendapatan pada aktivitas pariwisata budaya.
Karena itu pemulihan ekonomi harus berjalan bersama pembangunan fisik.
Setelah rumah berdiri, apakah warga memiliki modal untuk kembali berusaha? / Bagaimana dengan alat tenun yang terbakar? / Bagaimana dengan hasil tenun yang hilang? / Bagaimana dengan pedagang yang kehilangan barang dagangan? / Dan bagaimana masyarakat memperoleh pendapatan selama kawasan belum kembali berfungsi normal?
Bantuan tanggap darurat menyelamatkan hari ini.
Tetapi pemulihan ekonomi menentukan bagaimana sebuah keluarga menjalani bulan-bulan setelahnya.
Dan Kita Tidak Boleh Membangun Sade Tanpa Belajar dari Kebakaran Ini
Ada satu hal yang harus masuk ke dalam seluruh rencana rekonstruksi: mitigasi.
Dinas Kebudayaan NTB sendiri telah mengusulkan penguatan sistem deteksi kebakaran, sumber air, alat pemadam, jalur evakuasi, titik kumpul, standar operasional, hingga pelatihan bagi masyarakat.
Ini sangat penting.
Rumah tradisional dengan material yang mudah terbakar memiliki karakter tersendiri.
Kita tentu tidak bisa begitu saja mengganti seluruhnya dengan beton lalu tetap menyebutnya sebagai pelestarian.
Tetapi kita juga tidak boleh membangun kembali persis seperti sebelumnya tanpa memperbaiki kemampuan kawasan menghadapi kebakaran.
Tantangannya justru berada di antara dua kebutuhan itu:
Bagaimana mempertahankan keaslian arsitektur sekaligus meningkatkan keselamatan? / Bagaimana menjaga alang-alang dan material tradisional tetapi membuat api lebih cepat terdeteksi? / Bagaimana menjaga pola kampung tetapi menyediakan akses pemadaman, sumber air, dan jalur evakuasi yang lebih baik?
Di sinilah dibutuhkan ahli.
Arsitek tradisional.
Tokoh adat.
Petugas pemadam.
Ahli kebencanaan.
Pemerintah.
Akademisi.
Dan terutama masyarakat Sade sendiri.
Solidaritas yang Besar Membawa Tanggung Jawab yang Besar
Kita patut bersyukur karena Sade tidak dibiarkan sendiri.
Dalam waktu singkat perhatian datang dari berbagai penjuru.
Itu memperlihatkan bahwa Sade memiliki tempat penting bukan hanya bagi masyarakat yang tinggal di sana, tetapi juga bagi Lombok, NTB, bahkan bagi mereka yang memandangnya sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Tetapi semakin besar perhatian yang datang, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik.
Kita tentu ingin suatu hari melihat rumah-rumah berdiri kembali.
Lumbung kembali terlihat.
Suara alat tenun kembali terdengar.
Wisatawan kembali datang.
Anak-anak kembali bermain.
Dan kehidupan kembali berjalan.
Tetapi tujuan pemulihan tidak boleh hanya menghasilkan foto “sebelum dan sesudah”.
Yang jauh lebih penting adalah masyarakatnya benar-benar pulih.
Ekonominya kembali bergerak.
Ingatan budayanya terselamatkan.
Dan sistem keselamatannya menjadi lebih baik.
Setelah Semua Bantuan Datang, Apa yang Akan Kita Tinggalkan?
Beberapa bulan dari sekarang, pemberitaan mungkin mulai berkurang.
Kamera akan berpindah menuju peristiwa lain.
Orang-orang akan kembali kepada kesibukannya.
Tetapi masyarakat Sade masih harus menjalani proses yang jauh lebih panjang.
Karena membangun rumah lebih cepat daripada membangun kembali kehidupan.
Mengirim sembako lebih mudah daripada memulihkan penghasilan.
Memberikan uang lebih cepat daripada mengembalikan ingatan budaya yang hilang.
Dan mendirikan bangunan baru jauh lebih mudah daripada memastikan sebuah kampung adat tetap menjadi kampung yang hidup.
Ketika perhatian publik nanti mulai berkurang, apakah pendampingan masih berjalan? / Ketika semua bantuan telah disalurkan, apakah masyarakat sudah benar-benar pulih? / Ketika rumah-rumah baru selesai dibangun, apakah Sade masih menjadi Sade? / Dan ketika suatu hari wisatawan kembali datang, apakah masyarakat yang hidup di dalamnya menjadi pihak pertama yang merasakan hasil pemulihannya?
Mungkin inilah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.
Bukan seberapa cepat bantuan datang.
Bukan seberapa banyak foto penyerahan bantuan dipublikasikan.
Dan bukan pula seberapa besar angka yang diumumkan.
Tetapi apakah semua solidaritas itu pada akhirnya sampai kepada manusia yang membutuhkannya.
Apakah bantuan digunakan untuk mengembalikan kehidupan.
Apakah warisan budaya diselamatkan.
Apakah risiko bencana dikurangi.
Dan apakah masyarakat Sade tetap menjadi pemilik utama dari masa depan kampungnya sendiri.
Bantuan telah mengalir.
Solidaritas telah diperlihatkan.
Sekarang pekerjaan yang lebih panjang dimulai:
memastikan setiap bantuan memiliki arah / setiap rupiah memiliki pertanggungjawaban / setiap keputusan melibatkan masyarakat / dan setiap bangunan yang kembali berdiri tetap membawa jiwa Sade di dalamnya.
Aldi Nurrasyid
Penggagas Nalar Sasak
Sumber dan Rujukan
- Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, “Malam Ketika Sade Dilalap Api”, 23 Agustus 2026. ```
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, laporan peninjauan dan penanganan kebakaran Desa Adat Sade, 23 Agustus 2026.
- Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lombok Tengah, “Kebakaran Sade Jadi Momentum Pemulihan Warisan Budaya Sasak, Bukan Sekadar Membangun Kembali Fisik”, 25 Agustus 2026.
- Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lombok Tengah, “Pemkab Lombok Tengah Koordinasi dengan Kemensos untuk Bangun Kembali Rumah Adat Sade”, 26 Agustus 2026.
- Kementerian Sosial Republik Indonesia sebagaimana diberitakan ANTARA, penyaluran bantuan kebutuhan dasar korban kebakaran Kampung Adat Sade, 23 Agustus 2026.
- Parlementaria DPR RI, “Sari Yuliati Tinjau Lokasi Kebakaran Desa Adat Sade, Serahkan Bantuan dan Siapkan Revitalisasi”, 23 Agustus 2026.
- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, “Didukung Danantara, BTN Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Kebakaran Desa Adat Sade”, 24 Agustus 2026.
- Biro Administrasi Pimpinan Provinsi Nusa Tenggara Barat, “Sinergi BUMN Ringankan Beban Korban Kebakaran Sade”, 24 Agustus 2026.
- BAZNAS Kabupaten Lombok Tengah, “Respons Cepat BAZNAS Lombok Tengah Salurkan Bantuan Lanjutan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade”, 26 Agustus 2026.
- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, pernyataan mengenai prinsip pemulihan dan rekonstruksi Desa Adat Sade, 26 Agustus 2026.
- RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, dan Rumah Sakit Mutiara Sukma mengenai pelayanan kesehatan serta pendampingan masyarakat pascakebakaran, Agustus 2026. ```

Komentar
Posting Komentar