Menelusuri asal-usul, perubahan fungsi, akulturasi budaya, dan makna Gendang Beleq dalam perjalanan masyarakat Sasak di Lombok.
Di tengah kehidupan masyarakat Lombok, ada bunyi yang sulit dipisahkan dari ingatan tentang kebudayaan Sasak: dentuman Gendang Beleq.
Suara gendang berukuran besar yang dimainkan secara berkelompok bukan sekadar musik pengiring sebuah acara. Di balik dentumannya terdapat perjalanan panjang mengenai identitas, keberanian, kebersamaan, perubahan sosial, bahkan pertemuan berbagai kebudayaan yang pernah berlangsung di Pulau Lombok.
Hari ini Gendang Beleq dapat ditemui dalam nyongkolan, perkawinan adat, khitanan, ngurisan, begawe beleq, penyambutan tamu, festival budaya, hingga berbagai pertunjukan pariwisata.
Namun, fungsi tersebut bukanlah satu-satunya wajah Gendang Beleq dalam sejarah masyarakat Sasak. Sejumlah literatur menghubungkannya dengan kehidupan peperangan dan keberadaan pasukan pada masa lalu.
Pertanyaannya kemudian:
Dari Mana Sebenarnya Gendang Beleq Berasal?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang selama ini sering diceritakan. Sejarah Gendang Beleq memiliki beberapa lapisan narasi, mulai dari tradisi lisan masyarakat, kajian akademik, hingga dokumentasi resmi pemerintah mengenai warisan budaya.
Tidak terdapat satu versi sejarah yang dapat secara mutlak menjelaskan kapan Gendang Beleq pertama kali muncul dalam bentuk seperti yang dikenal masyarakat sekarang.
Apa Arti "Gendang Beleq"?
Secara sederhana, istilah Gendang Beleq terdiri atas dua kata. "Gendang" merujuk pada alat musik yang dimainkan dengan cara ditabuh, sedangkan beleq dalam bahasa Sasak berarti besar.
Dengan demikian, Gendang Beleq secara harfiah dapat dipahami sebagai gendang besar.
Ukuran tersebut menjadi salah satu ciri paling menonjol. Berbeda dengan gendang biasa, Gendang Beleq mempunyai tubuh yang jauh lebih besar sehingga menghasilkan suara yang kuat dan bergema.
Dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjelaskan Gendang Beleq sebagai seni musik tradisional Sasak dengan Gendang Beleq sebagai instrumen utama. Dalam dokumentasi tersebut juga dikenal dua jenis gendang, yaitu gendang mama dan gendang nina.
Menariknya, penyebutan kesenian ini tidak selalu seragam di seluruh Lombok. Di beberapa wilayah terdapat istilah seperti musik oncer, kecodak, dan kedokdaq.
Perbedaan istilah tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional Lombok berkembang dalam lingkungan masyarakat yang beragam dan tidak selalu memiliki satu bentuk lokal yang seragam.
Jejak Awal: Benarkah Gendang Beleq Adalah Musik Perang?
Inilah salah satu narasi yang paling sering muncul ketika sejarah Gendang Beleq dibicarakan.
Sejumlah kajian dan sumber kebudayaan menyebut bahwa pada masa lampau Gendang Beleq digunakan untuk mengiringi dan membangkitkan semangat pasukan yang berangkat menuju medan perang.
Dentuman yang keras dipercaya mampu membangun keberanian dan semangat kolektif para prajurit.
Tradisi lisan dan sejumlah penelitian menghubungkan fungsi awal Gendang Beleq dengan kehidupan peperangan dan kedatuan masyarakat Sasak.
Akan tetapi, perlu kehati-hatian dalam menyatakan bahwa Gendang Beleq "pasti diciptakan khusus untuk perang".
Sebagian besar informasi mengenai periode awal kesenian ini berasal dari tradisi lisan. Karena itu, narasi sejarah tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat dan dibandingkan dengan sumber-sumber akademik maupun dokumenter lainnya.
Narasi Abad ke-14: Menarik, tetapi Perlu Dibaca Kritis
Salah satu narasi yang cukup terkenal menyebut Gendang Beleq telah berkembang sejak sekitar abad ke-14 Masehi.
Narasi tersebut menempatkan Gendang Beleq dalam konteks masa kedatuan, ketika musik dan bunyi-bunyian memiliki fungsi sosial maupun militer.
Tetapi terdapat persoalan metodologis yang penting.
Perkiraan keberadaan tradisi pada abad ke-14 tidak sama dengan bukti bahwa bentuk ansambel Gendang Beleq modern sudah persis sama pada masa tersebut.
Kita perlu membedakan antara kemungkinan adanya tradisi musik atau alat tabuh pada masa awal, fungsi gendang dalam kehidupan kedatuan, serta bentuk Gendang Beleq yang dikenal masyarakat saat ini.
Versi Lain: Perkembangan pada Awal Abad ke-20
Dokumentasi resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat bahwa perkembangan awal musik Gendang Beleq diperkirakan sekitar tahun 1920–1930.
Sekilas, informasi ini terlihat bertentangan dengan narasi abad ke-14. Namun kedua informasi tersebut dapat dibaca sebagai dua lapisan sejarah yang berbeda.
Tradisi menabuh gendang dan fungsi sosialnya kemungkinan memiliki akar yang lebih panjang dalam kehidupan masyarakat Lombok.
Ansambel dan bentuk pertunjukan yang dikenal sekarang dapat mengalami perkembangan, perubahan, atau standardisasi pada periode yang lebih muda.
Dengan demikian, mencari satu tahun sebagai "tahun kelahiran" Gendang Beleq justru berisiko menyederhanakan sejarah kebudayaan yang sebenarnya berkembang secara bertahap.
Pertemuan Sasak dan Bali: Apakah Gendang Beleq Murni Sasak?
Pertanyaan ini menarik sekaligus sensitif.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya proses akulturasi antara kebudayaan Sasak dan Bali dalam perkembangan kesenian Gendang Beleq.
Hubungan sejarah antara masyarakat Sasak dan Bali di Lombok memungkinkan terjadinya pertukaran unsur seni, musik, teknologi instrumen, dan praktik budaya.
Namun, menyebut Gendang Beleq sebagai "budaya Bali" juga merupakan kesimpulan yang terlalu jauh.
Akulturasi tidak berarti satu kebudayaan menghapus kebudayaan lainnya. Akulturasi menunjukkan bagaimana masyarakat mengambil, mengolah, menyesuaikan, dan memberi makna baru terhadap unsur budaya yang mereka temui.
Dalam konteks tersebut, Gendang Beleq dapat dipahami sebagai bagian dari kebudayaan Sasak yang berkembang melalui sejarah interaksi budaya di Lombok.
Dari Medan Perang Menuju Nyongkolan
Jika dahulu dentuman Gendang Beleq dikaitkan dengan keberanian pasukan, hari ini dentuman yang sama justru lebih sering terdengar dalam suasana perayaan.
Pengantin berjalan. Masyarakat berkumpul. Anak-anak mengikuti rombongan. Jalan desa berubah menjadi ruang pertunjukan budaya.
Perubahan tersebut merupakan bentuk transformasi budaya.
Penelitian mengenai Gendang Beleq menunjukkan bahwa fungsi kesenian ini berkembang dari konteks peperangan menuju berbagai kegiatan sosial dan adat, termasuk perkawinan, khitanan, ngurisan, dan festival budaya.
Perang → Adat → Pertunjukan → Identitas → Pariwisata
Dengan kata lain:
Gendang Beleq tidak mati ketika perang berakhir.
Ia justru menemukan kehidupan baru.
Dari Simbol Perang Menjadi Simbol Kebersamaan
Perubahan fungsi tersebut tidak berarti makna Gendang Beleq hilang. Justru terdapat nilai yang tetap bertahan.
Dahulu, dentuman gendang mengumpulkan dan membangkitkan semangat orang-orang yang menghadapi bahaya.
Sekarang, dentuman yang sama mengumpulkan masyarakat dalam sebuah perayaan.
Dahulu ia mengiringi pasukan. Sekarang ia mengiringi pengantin.
Dahulu ia berkaitan dengan keberanian menghadapi musuh. Sekarang ia menjadi simbol kegembiraan, kebersamaan, dan identitas budaya.
Benang merahnya adalah kolektivitas.
Gendang Beleq sebagai Ruang Belajar
Gendang Beleq hampir selalu dimainkan secara berkelompok. Satu pemain tidak berdiri sendiri.
Gendang, gong, reong, petuk, seruling, dan instrumen lainnya membentuk satu kesatuan pertunjukan.
Karena itu, Gendang Beleq bukan hanya warisan seni. Ia juga dapat menjadi ruang belajar tentang kebersamaan, disiplin, koordinasi, identitas, dan pengetahuan lokal.
Sejumlah penelitian bahkan menemukan kandungan pengetahuan lokal dan etnopedagogi dalam kesenian Gendang Beleq yang dapat dimanfaatkan dalam konteks pendidikan.
Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Gendang Beleq memiliki posisi penting dalam upaya pelestarian budaya Lombok.
Gendang Beleq ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2013 melalui SK Nomor 238/M/2013, dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai wilayah asal dan domain Seni Pertunjukan.
Pengakuan tersebut penting karena warisan budaya tidak hanya berbicara mengenai sebuah benda.
Yang diwariskan adalah:
- pengetahuan membuat instrumen;
- teknik memainkan alat musik;
- pola pertunjukan;
- nilai sosial;
- tata cara penggunaan;
- hubungan dengan upacara adat;
- serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Karena itu, Gendang Beleq tidak dapat dipahami hanya sebagai sebuah gendang berukuran besar.
Yang diwariskan sebenarnya adalah sistem pengetahuan budaya di balik gendang tersebut.
Mengapa Gendang Beleq Harus Tetap Hidup?
Modernisasi tidak selalu menjadi musuh kebudayaan. Masalah sebenarnya adalah ketika kebudayaan hanya dipertontonkan tetapi tidak lagi dipahami.
Gendang Beleq dapat tampil dalam festival, panggung budaya, acara pemerintahan, maupun promosi pariwisata.
Tetapi jika generasi muda hanya mengetahui cara memukulnya tanpa memahami sejarah dan nilai yang dikandungnya, maka pelestarian tersebut belum sepenuhnya berhasil.
Pelestarian bukan sekadar mempertahankan bunyi.
Pelestarian adalah mempertahankan pengetahuan.
Gendang Beleq dan Masa Depan Budaya Sasak
Di tengah perkembangan pariwisata Lombok, Gendang Beleq mempunyai peluang besar untuk menjadi salah satu wajah kebudayaan daerah.
Namun terdapat risiko yang perlu diperhatikan.
Ketika sebuah tradisi masuk ke industri pariwisata, ada kemungkinan budaya berubah menjadi sekadar komoditas pertunjukan.
- Durasi dipersingkat.
- Gerakan disederhanakan.
- Makna dikurangi.
- Tradisi disesuaikan dengan kebutuhan panggung.
Perubahan tersebut tidak selalu salah. Budaya memang selalu berubah.
Tetapi masyarakat perlu mengetahui batas antara adaptasi dan kehilangan makna.
Gendang Beleq boleh tampil di panggung modern. Boleh masuk festival. Boleh dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Boleh dipelajari melalui sekolah dan perguruan tinggi.
Namun akar sejarah dan pengetahuan masyarakat yang melahirkannya tidak boleh ikut hilang.
Kesimpulan: Sejarah yang Masih Berdentum
Asal-usul Gendang Beleq ternyata bukan cerita tunggal.
Ada tradisi lisan yang menghubungkannya dengan masa kedatuan dan peperangan. Ada narasi yang memperkirakan keberadaannya sejak sekitar abad ke-14. Ada pula dokumentasi resmi yang memperkirakan perkembangan musik Gendang Beleq sekitar 1920–1930.
Penelitian akademik menunjukkan bahwa bentuk dan fungsinya mengalami transformasi, termasuk kemungkinan proses akulturasi dengan kebudayaan Bali.
Semua informasi tersebut tidak harus dipertentangkan secara sederhana. Justru dari perbedaan itulah kita memahami satu hal penting:
Gendang Beleq adalah kebudayaan yang tumbuh melalui proses sejarah yang panjang.
Ia tidak lahir dalam satu malam. Ia terbentuk melalui masyarakat, perjalanan sejarah, interaksi budaya, perubahan politik, kehidupan adat, dan pewarisan antargenerasi.
Dentumannya hari ini mungkin tidak lagi mengantar prajurit menuju medan perang. Tetapi ia masih membawa semangat yang sama:
mengumpulkan manusia, membangun kebersamaan, dan mengingatkan masyarakat Sasak tentang siapa mereka.
Karena itu, ketika Gendang Beleq kembali ditabuh di jalan-jalan Lombok, yang terdengar sesungguhnya bukan hanya suara kulit dan kayu.
Yang terdengar adalah gema sejarah sebuah masyarakat.
Dan selama masyarakat Sasak masih menabuhnya, sejarah itu belum selesai.
Catatan Redaksi Nalar Sasak
Tulisan ini menggunakan pendekatan kajian literatur dan membedakan antara sejarah yang terdokumentasi, hasil penelitian akademik, serta tradisi lisan. Perbedaan mengenai masa awal kemunculan Gendang Beleq menunjukkan bahwa sejarah kesenian ini masih memiliki ruang untuk penelitian lebih lanjut, khususnya melalui arsip lokal, manuskrip, wawancara dengan maestro, serta penelitian etnomusikologi di berbagai wilayah Lombok.
Referensi Utama
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Gendang Beleq, penetapan tahun 2013.
- Ramdhani, A. H. (2021). Transformasi Etno-Musik Tradisional Sasak: Evolusi Budaya dan Pertentangan Kelas. ASANKA: Journal of Social Science and Education.
- Fazalani, R. (2020). Kesenian Gendang Belek Masyarakat Suku Sasak Sebagai Budaya Tradisional. Lingua Franca: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya.
- Sumardi, N. K. (2017). Evolusi Gendang Beleq Lombok. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, 1(2), 63–69.
- Supartha, K. (2020). Acculturation of Culture between the Sasak Ethnic and Balinese Ethnic in the Art of Gendang Beleq in Lombok.
- Saputra, G. A. M. (2020). Kajian Instrumentasi dan Organologi Gendang Beleq Sanggar Mertaq Mi Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik.
- Alditia, L. M. & Nurmawanti, I. (2023). Ethnopedagogical Content in the Traditional Art of Sasak Ethnic Group: Gendang Beleq. Didaktika: Jurnal Kependidikan.
- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Gendang Beleq: Alat Musik yang Memiliki Banyak Peran dalam Peradaban Masyarakat Adat Sasak.

Komentar
Posting Komentar