Beranda / Artikel

BATU KLENANG: KETIKA BATU MENYIMPAN JEJAK KEHIDUPAN LAMA DI LOMBOK

Menghitung waktu baca…
NALAR SASAK

Di antara semak, lahan pertanian, dan lanskap vulkanik Lombok Timur, terdapat batu-batu yang ketika diketuk menghasilkan bunyi berbeda. Di sekitarnya ditemukan jejak bangunan lama. Masyarakat pun menyimpan cerita tentang tempat tersebut.

Oleh Aldi Nurrasyid

Batu Kelenang Sambelia Lombok Timur

Batu Kelenang di kawasan Sambelia, Lombok Timur.

Sebuah Tempat yang Tidak Banyak Diketahui

Di bagian timur Pulau Lombok, Kecamatan Sambelia menyimpan banyak potongan cerita tentang masa lalu. Sebagian telah dikenal masyarakat, sebagian lainnya masih tersembunyi di balik lanskap desa, kebun, hutan, dan perbukitan.

Salah satunya adalah sebuah situs yang dalam dokumen pengembangan Geopark Rinjani-Lombok disebut sebagai Situs Batu Kelenang.

Situs ini berada di kawasan Sambelia, Lombok Timur, dan disebut sebagai hamparan permukiman kuno yang dihujani batu hasil erupsi gunung api. Lokasinya berdekatan dengan kawasan Lenteng Tedes.

Dalam dokumen tersebut, Batu Klenang juga disebut bersama Lendeng Tedes, Bale Dalam, dan Patung Dewi Anjani sebagai sejumlah situs purba di Sambelia yang layak mendapatkan penelitian lebih lanjut.

Artinya, Batu Kelenang bukan sekadar nama sebuah tempat yang muncul dari cerita masyarakat. Ia telah masuk dalam dokumentasi kawasan Geopark Rinjani-Lombok sebagai bagian dari kekayaan geologi dan budaya Sambelia.

Empat Batu yang Tersusun Rapi

Yang membuat cerita Batu Kelenang semakin menarik adalah keberadaan empat batu yang hingga kini masih berada dalam formasi yang relatif rapi.

Sebuah laporan mengenai situs tersebut menyebut bahwa empat batu itu masih berada di tempatnya dan tidak diketahui secara pasti siapa yang menyusunnya pada masa lalu. Penggarap lahan di sekitar lokasi disebut tidak berani mengusiknya.

Di sinilah cerita Batu Kelenang mulai menjadi lebih dari sekadar cerita tentang batu.

Sebab pertanyaannya sederhana, tetapi sulit dijawab:

Jika empat batu itu memang telah berada dalam susunan tersebut sejak masa lalu, siapa yang menyusunnya dan untuk tujuan apa?

Belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk memastikan jawabannya. Tetapi justru pertanyaan tersebut membuat situs ini layak diperhatikan.

Batu yang Mengeluarkan Bunyi

Keunikan berikutnya adalah suara yang muncul ketika batu diketuk.

Menurut laporan lapangan yang diterbitkan mengenai Batu Kelenang, keempat batu tersebut menghasilkan suara yang berbeda ketika diketuk. Jika bunyinya dimainkan secara beraturan, kesannya menyerupai permainan kulintang.

Suara tersebut dilaporkan tidak terlalu nyaring, tetapi menjadi salah satu daya tarik yang membuat masyarakat dan orang-orang yang datang ke lokasi semakin penasaran terhadap keberadaan batu-batu tersebut.

Apakah batu tersebut memang sengaja dipilih karena karakter bunyinya? Apakah susunannya berkaitan dengan fungsi tertentu? Atau apakah bunyi tersebut hanyalah karakter alami dari jenis batu yang kebetulan tersusun demikian?

Belum ada penelitian yang cukup untuk menjawabnya.

Dan di situlah batas antara cerita dan bukti harus dijaga.

Ketika Para Sesepuh Menyimpan Cerita

Situs lama tidak hanya meninggalkan benda. Ia juga meninggalkan ingatan.

Dalam laporan mengenai Batu Kelenang, keberadaan empat batu tersebut dikaitkan dengan cerita yang berkembang di tengah masyarakat dan para sesepuh desa. Bunyi yang muncul ketika batu diketuk kemudian menjadi salah satu bagian dari cerita yang membuat lokasi tersebut dianggap memiliki sesuatu yang berbeda.

Bagi masyarakat, cerita semacam itu tidak muncul dalam ruang kosong. Ia biasanya diwariskan dari orang tua kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya, melalui percakapan dan ingatan bersama.

Karena itu, cerita para sesepuh tetap penting untuk didokumentasikan. Bukan karena seluruh isinya harus langsung dianggap sebagai fakta sejarah, tetapi karena cerita tersebut merupakan bagian dari cara masyarakat memahami tempat tinggal mereka.

Sebuah situs dapat kehilangan artefaknya, tetapi ketika cerita masyarakat juga hilang, kita kehilangan dua lapisan sejarah sekaligus.

Jejak Bangunan di Sekitar Batu

Batu Kelenang menjadi semakin menarik karena batu-batu tersebut bukan satu-satunya jejak yang ditemukan di kawasan itu.

Laporan mengenai situs tersebut menyebut adanya puing bangunan, serpihan bata, dan genteng di sekitar lokasi. Temuan seperti itu memberikan petunjuk bahwa kawasan tersebut pernah memiliki aktivitas permukiman.

Jika dibaca bersama dokumentasi Geopark Rinjani-Lombok yang menyebut Batu Kelenang sebagai hamparan permukiman kuno yang tertimbun material erupsi, gambaran tentang kawasan tersebut menjadi semakin menarik.

Namun, jejak bangunan belum cukup untuk menentukan secara pasti kapan bangunan tersebut dibuat, siapa yang membangunnya, maupun bagaimana fungsi bangunan tersebut.

Semua itu membutuhkan penelitian arkeologi yang lebih mendalam.

Permukiman yang Berubah karena Gunung Api

Dokumen Geopark Rinjani-Lombok menggambarkan Batu Kelenang sebagai hamparan permukiman kuno yang dihujani batu hasil erupsi gunung api. Kawasan tersebut berada pada jalur dataran tinggi menuju hutan sebelum permukiman kemudian berpindah ke wilayah lembah hingga mendekati pinggir laut.

Gambaran tersebut memberikan konteks penting.

Sejarah permukiman tidak dapat dipisahkan dari sejarah alam. Manusia memilih tempat tinggal berdasarkan kondisi lingkungan, sementara lingkungan sendiri terus berubah.

Gunung api dapat menyediakan tanah yang subur dalam jangka panjang, tetapi letusan dan material vulkanik juga dapat menjadi ancaman bagi permukiman.

Jika suatu kawasan pernah tertimbun material erupsi, maka perubahan permukiman menjadi sesuatu yang masuk akal untuk diteliti.

Batu Kelenang dengan demikian dapat dibaca sebagai titik pertemuan antara manusia, gunung, tanah, dan waktu.

Sambelia dan Lapisan Masa Lalu

Sambelia bukan kawasan yang hanya memiliki satu cerita sejarah.

Dokumen Geopark Rinjani-Lombok mencatat Kecamatan Sambelia sebagai wilayah yang memiliki keanekaragaman geologi, biologi, dan budaya. Di dalamnya terdapat kawasan seperti Kampung Kuno Lendeng Tedes, Goa Patung Dewi Anjani, serta sejumlah situs lain termasuk Batu Kelenang.

Bahkan, dokumen tersebut juga mencatat penemuan nekara perunggu di wilayah Sambelia dan menghubungkannya dengan kebudayaan masa prasejarah pada masa perundagian.

Informasi ini penting karena memperlihatkan bahwa Sambelia memiliki potensi sejarah yang jauh lebih luas daripada satu situs.

Batu Kelenang seharusnya dilihat sebagai bagian dari lanskap yang lebih besar.

Lendeng Tedes, Bale Dalam, Batu Kelenang, Patung Dewi Anjani, serta temuan-temuan lain dapat menjadi potongan-potongan yang, jika diteliti bersama, mungkin memberikan gambaran lebih utuh tentang perjalanan manusia di bagian timur Lombok.

Mengapa Empat Batu Itu Tidak Dipindahkan?

Ada satu bagian dari cerita Batu Kelenang yang menarik dari sisi hubungan masyarakat dengan ruang.

Laporan mengenai situs tersebut menyebut bahwa para penggarap lahan di sekitarnya tidak berani mengusik formasi empat batu itu.

Bagi seorang peneliti, hal tersebut merupakan informasi sosial yang sama pentingnya dengan batu itu sendiri.

Mengapa masyarakat memilih untuk membiarkannya?

Apakah karena cerita yang diwariskan? Apakah karena penghormatan terhadap tempat lama? Ataukah karena ada keyakinan tertentu yang berkembang di masyarakat?

Jawabannya perlu dicari melalui wawancara dengan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang sejarah kawasan tersebut.

Di sinilah sejarah lisan menjadi penting.

Antara Misteri dan Penelitian

Batu Kelenang memang memiliki unsur yang mudah membuat orang penasaran: batu yang tersusun rapi, bunyi yang berbeda, cerita para sesepuh, serta jejak permukiman lama.

Tetapi penelitian tidak boleh berhenti pada kata misteri.

Misteri adalah awal dari pertanyaan, bukan akhir dari penelitian.

Jika batu-batu tersebut memiliki karakter bunyi yang berbeda, maka karakter tersebut dapat diukur.

Jika terdapat dugaan permukiman lama, maka kawasan tersebut dapat dipetakan dan diteliti secara arkeologis.

Jika terdapat cerita masyarakat, maka cerita tersebut dapat didokumentasikan melalui sejarah lisan.

Jika terdapat hubungan dengan aktivitas vulkanik, maka aspek geologinya dapat dikaji.

Dengan begitu, sesuatu yang awalnya hanya menjadi cerita dapat berkembang menjadi pengetahuan.

Video dari Lapangan

Bagi pembaca yang ingin melihat kondisi Batu Kelenang secara visual, dokumentasi video lapangan dapat menjadi pelengkap tulisan ini.

Dokumentasi visual Batu Kelenang

Lihat Video di Facebook

Dokumentasi video lapangan

Jika Batu Bisa Bercerita

Bayangkan sebuah tempat yang dahulu mungkin menjadi ruang kehidupan manusia.

Orang-orang pernah berjalan di atas tanahnya. Mereka membangun tempat tinggal. Mereka bekerja. Mereka bercocok tanam. Mereka mungkin berkumpul, berbicara, melakukan ritual, atau memainkan sesuatu yang sekarang tidak lagi kita kenali.

Kemudian alam berubah. Material vulkanik datang. Lingkungan berubah. Permukiman berpindah. Waktu berjalan.

Generasi berganti.

Yang tersisa mungkin hanya batu, puing bangunan, serpihan bata, genteng, dan cerita yang perlahan diwariskan.

Itulah yang membuat Batu Kelenang menarik.

Ia tidak harus menjadi tempat yang penuh kemegahan untuk memiliki nilai sejarah.

Kadang, yang paling berharga justru adalah sesuatu yang hampir tidak lagi kita perhatikan.

Batu yang Menunggu Dibaca

Batu Kelenang bukan sekadar empat batu yang tersusun di sebuah kawasan di Sambelia.

Ia adalah sebuah pertanyaan.

Pertanyaan tentang siapa yang pernah tinggal di sana. Pertanyaan tentang mengapa batu-batu tersebut berada dalam formasi seperti sekarang. Pertanyaan tentang suara yang muncul ketika batu diketuk. Pertanyaan tentang puing bangunan yang ditemukan di sekitarnya. Dan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat masa lalu menghadapi perubahan lingkungan vulkanik.

Sebagian jawabannya mungkin berada di bawah tanah. Sebagian mungkin tersimpan dalam arsip. Sebagian mungkin masih hidup dalam ingatan para sesepuh.

Dan sebagian lainnya mungkin baru dapat ditemukan ketika penelitian serius benar-benar dilakukan.

"Kita sering mencari sejarah di tempat yang megah, padahal kadang sejarah justru menunggu untuk ditemukan di tempat yang selama ini kita anggap biasa."

— Aldi Nurrasyid

Kesimpulan

Batu Kelenang di Sambelia merupakan salah satu situs yang memiliki potensi besar untuk dibaca melalui pendekatan sejarah, arkeologi, geologi, dan budaya.

Dokumen Geopark Rinjani-Lombok mencatatnya sebagai hamparan permukiman kuno yang dihujani batu hasil erupsi gunung api, berdekatan dengan Lenteng Tedes. Dokumen yang sama menempatkan Batu Klenang sebagai salah satu situs purba Sambelia yang layak diteliti.

Sementara dokumentasi lapangan yang terbit pada 2023 mencatat empat batu yang tersusun rapi, bunyi berbeda ketika diketuk, serta keberadaan puing bangunan, serpihan bata, dan genteng di sekitar kawasan.

Semua informasi tersebut belum cukup untuk menentukan secara pasti siapa yang menyusun batu, kapan susunan itu dibuat, apakah batu memiliki fungsi tertentu, maupun bagaimana sejarah lengkap permukiman di kawasan tersebut.

Tetapi justru karena masih banyak yang belum diketahui, Batu Kelenang layak mendapatkan perhatian.

Bukan untuk membesar-besarkan misterinya, melainkan untuk menemukan kebenaran yang ada di balik ceritanya.

Catatan

Artikel ini menggunakan dokumentasi Geopark Rinjani-Lombok sebagai rujukan utama mengenai posisi Batu Kelenang sebagai situs budaya dan permukiman kuno, serta laporan lapangan mengenai empat batu, bunyi yang berbeda, puing bangunan, dan cerita masyarakat. Penyebutan mengenai fungsi, usia, pembuat, atau makna asli batu-batu tersebut tidak diposisikan sebagai fakta yang telah terbukti karena masih membutuhkan penelitian arkeologi, geologi, dan sejarah lisan lebih lanjut. Dokumentasi video Facebook disertakan sebagai bahan visual lapangan, bukan sebagai dasar untuk membuat klaim ilmiah baru.

© 2026 Aldi Nurrasyid

Sejarah • Budaya • Riset • Lombok

Bagikan tulisan ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Lombok Semakin Ramai, Apakah Masyarakatnya Benar-Benar Ikut Maju

Ketika Pariwisata Tumbuh, Siapa yang Benar-Benar Mendapat Manfaat?

10 Destinasi Lombok yang Paling Diminati Wisatawan Mancanegara