OPINI
Oleh: Hendra Masha Putra
Kamis, 27 Agustus 2026 | Nalar Sasak
Ada sesuatu yang menarik dari cara kita membicarakan Lombok hari ini.
Kita sering mengatakan bahwa Lombok indah. Kita bangga dengan pantainya, gunungnya, budaya Sasaknya, desa wisatanya, makanan tradisionalnya, bahkan keramahan masyarakatnya.
Ketika wisatawan datang, kita senang. Ketika sebuah tempat di Lombok masuk pemberitaan nasional maupun internasional, kita ikut membagikannya.
Kita bangga.
Dan memang tidak ada yang salah dengan rasa bangga itu.
Tetapi sesekali, mungkin kita perlu berhenti sebentar dan bertanya:
Apakah kemajuan pariwisata benar-benar membuat masyarakat Lombok ikut maju?
Pertanyaan ini sederhana. Namun jawabannya tidak sesederhana unggahan media sosial tentang matahari terbenam, pantai, hotel, atau destinasi wisata baru.
Ketika Lombok Terlihat Semakin Maju
Dari layar telepon genggam, Lombok terlihat semakin menarik.
Pantai menjadi destinasi. Hotel berdiri. Restoran berkembang. Jalan semakin ramai. Wisatawan datang dari berbagai tempat. Desa-desa mulai dikenal.
Semua itu tentu merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.
Tetapi pembangunan memiliki ukuran yang lebih luas daripada sekadar apa yang terlihat dari permukaan.
Sebuah daerah bisa memiliki hotel berbintang, tetapi masyarakat di sekitarnya belum tentu memiliki pekerjaan yang layak.
Sebuah desa bisa menjadi destinasi wisata, tetapi anak-anak mudanya belum tentu memiliki keterampilan yang cukup untuk mengambil bagian dalam industri tersebut.
Sebuah wilayah bisa kedatangan banyak wisatawan, tetapi kita tetap perlu bertanya:
Berapa banyak manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di tangan masyarakat lokal?
Jangan sampai kita hanya menjadi penonton dari kemajuan tanah sendiri.
Pariwisata Jangan Hanya Membutuhkan Masyarakat sebagai Pemandangan
Ada ironi yang kadang tidak kita sadari.
Budaya masyarakat lokal menjadi daya tarik wisata. Rumah tradisional menjadi objek fotografi. Kain tenun menjadi komoditas. Tradisi menjadi atraksi. Keramahan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan.
Semua itu memiliki nilai.
Tetapi ketika berbicara mengenai pengambilan keputusan, kepemilikan usaha, posisi strategis, dan pengelolaan ekonomi, masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi pelengkap.
Masyarakat Sasak bukan hanya bagian dari cerita wisata.
Mereka juga harus memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari pemilik cerita tersebut.
Anak muda Lombok seharusnya tidak hanya diarahkan menjadi pekerja di sektor pariwisata. Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk menjadi pengusaha, pengelola destinasi, pembuat konten, fotografer, pemandu wisata, pengembang teknologi, peneliti, maupun pemilik usaha.
Sebab pariwisata yang sehat bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang.
Pariwisata juga tentang berapa banyak masyarakat yang mendapatkan kesempatan untuk tumbuh bersama kedatangan mereka.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Jati Diri
Ada persoalan lain yang lebih sulit dibicarakan.
Ketika sebuah daerah berkembang menjadi destinasi wisata, selalu ada risiko bahwa masyarakat mulai mengubah dirinya agar sesuai dengan keinginan pasar.
Apa yang dianggap menarik akan dipertahankan.
Apa yang dianggap tidak menjual perlahan dapat ditinggalkan.
Lama-kelamaan kita bisa sampai pada situasi yang aneh: budaya sendiri dipertahankan bukan karena masyarakat masih memahami dan menghayatinya, melainkan karena wisatawan masih ingin melihatnya.
Kalau sampai pada titik tersebut, kita perlu bertanya:
Apakah kita sedang menjaga budaya, atau sedang menjualnya?
Keduanya memang tidak selalu bertentangan.
Budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi. Tetapi ekonomi tidak boleh membuat budaya kehilangan makna.
Rumah adat bukan hanya latar belakang foto.
Tenun bukan hanya oleh-oleh.
Tradisi bukan hanya pertunjukan.
Bahasa bukan hanya identitas dalam brosur pariwisata.
Semua itu memiliki sejarah dan nilai yang jauh lebih panjang daripada umur sebuah tren wisata.
Pendidikan Seharusnya Menjadi Mesin Utama
Kalau kita serius ingin membangun pariwisata Lombok dalam jangka panjang, maka pendidikan tidak boleh diperlakukan sebagai urusan yang berdiri sendiri.
Anak-anak Lombok perlu mendapatkan pendidikan yang membuat mereka mampu memahami sekaligus mengembangkan daerahnya sendiri.
Mereka harus mengenal budaya, tetapi juga memahami teknologi.
Mereka harus mengenal sejarah, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan dunia.
Mereka harus memahami lingkungan, tetapi juga memiliki kemampuan ekonomi dan kewirausahaan.
Mereka harus mencintai daerahnya, tetapi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis terhadap daerahnya sendiri.
Sebab mencintai daerah bukan berarti selalu mengatakan bahwa semuanya sudah baik.
Kadang-kadang, kritik justru merupakan bentuk cinta yang paling serius.
Orang yang benar-benar peduli tidak hanya berkata, "Lombok indah." Ia juga berani bertanya, "Mengapa masih ada masyarakat yang belum merasakan manfaat dari keindahan itu?"
Lombok Tidak Kekurangan Potensi
Barangkali masalah terbesar kita bukan kekurangan potensi.
Lombok memiliki alam.
Memiliki budaya.
Memiliki masyarakat.
Memiliki generasi muda.
Memiliki berbagai destinasi yang dapat dikembangkan.
Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana semua potensi tersebut dikelola agar tidak berhenti sebagai slogan.
Kita terlalu sering berbicara tentang potensi.
Sudah waktunya berbicara tentang kapasitas.
Bukan hanya "apa yang kita punya?", tetapi "apa yang mampu kita lakukan dengan apa yang kita punya?"
Karena memiliki pantai tidak otomatis membuat masyarakat sejahtera.
Memiliki budaya tidak otomatis membuat generasi muda memahami budayanya.
Memiliki destinasi wisata tidak otomatis membuat ekonomi masyarakat tumbuh.
Semua membutuhkan pengelolaan.
Dan pengelolaan membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, serta keberanian untuk berpikir jauh ke depan.
Pada Akhirnya, Lombok Adalah Rumah Kita
Wisatawan mungkin datang beberapa hari.
Mereka menikmati pantai, mendaki gunung, mencicipi makanan, membeli oleh-oleh, kemudian pulang.
Tetapi kita tinggal di sini.
Kita yang akan melihat bagaimana Lombok berubah sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun ke depan.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah wisatawan.
Kita juga harus melihat bagaimana kehidupan masyarakat lokal berubah.
- Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik?
- Apakah anak muda memiliki kesempatan kerja dan usaha?
- Apakah budaya tetap memiliki tempat?
- Apakah lingkungan tetap terjaga?
- Apakah masyarakat memiliki posisi dalam menentukan arah pembangunan?
Dan yang paling penting:
Apakah Lombok berkembang tanpa kehilangan dirinya sendiri?
Jangan Sampai Menjadi Tamu di Tanah Sendiri
Mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya menjadi orang yang bangga mengatakan bahwa Lombok adalah surga.
Kita perlu menjadi masyarakat yang memastikan bahwa surga itu juga layak untuk ditinggali oleh orang-orang yang sejak awal menjaganya.
Sebab pada akhirnya, pariwisata bukan sekadar tentang bagaimana membuat orang datang ke Lombok.
Pariwisata juga tentang bagaimana membuat masyarakat Lombok tidak merasa menjadi tamu di tanahnya sendiri.
Mungkin pertanyaan terbesar kita bukan lagi:
"Bagaimana membuat Lombok semakin terkenal?"
Melainkan:
"Bagaimana memastikan Lombok semakin maju tanpa membuat masyarakatnya kehilangan tempat di dalam kemajuan itu?"
Hendra Masha Putra
Kontributor Nalar Sasak
Nalar Sasak — Merawat Ingatan, Membaca Zaman.

Keren🔥🔥
BalasHapusmantap kali🔥🔥
BalasHapusBagus,, keren,,
BalasHapusHebat banget
BalasHapuskeren..mantap
BalasHapusLuar biasa🔥
BalasHapusKemajuan itu akan ada ketika seseorang benar" bekerja dengan kejujuran dan atau berpegang teguh pada kepercayaan itu sendiri, Lan Ceo
BalasHapusTop
BalasHapus